"Apakah kita mau seperti itu terus? Kalau sudah SMP seharunya sudah bisa masuk ke SMA, masuk S1, S2, S3, S4, S5, S6, konsistensi itu dibutuhkan," tuturnya.
Belajar dari Guyana
Jokowi mengaku belajar dari negara di Amerika Selatan di mana mereka awalnya tumbuh sebagai negara berkembang, tetapi lama kelamaan bisa menjadi negara maju.
Negara yang ia maksud ialah Guyana yang terletak di Amerika Selatan. Guyana menurut Jokowi sempat menjadi negara termiskin.

Kemudian, negara tersebut menemukan potensi minyak yang bisa meningkatkan pertumbuhan perekonomian negara.
Sampai akhinya, Guyana menjalankan pengelolaan minyak dengan menggandeng pihak swasta. Ia menggarisbawahi bahwa pengelolaan seperti itu bisa dilakukan oleh swasta tetapi tetap pemerintah lah yang memfasilitasi serta membuat aturannya.
"Kini Guyana menjadi negara pertumbuhan ekonomi tercepat, tahun 2022 mencapai 62 persen tahun lalu," terangnya.
Jokowi pun memiliki keinginan Indonesia bisa melakukan seperti yang dijalankan Guyana di mana pihak swasta dan pemerintah bisa bergandengan. Sejauh ini, pemerintah sudah menjalankan sistem tersebut.
Sebagai contoh pada pengelolaan tambang di Freeport.
Baca Juga: Ungkap Momen Pertama Kali Bertemu Selvi Ananda, Ternyata Ini Isi Hati Iriana Jokowi
"Ada swasta, ada BUMN dan pemerintah dapet, dapet Pph badan, Pph karyawan, bea ekspor, royalti, PNBP, dan plus karena pemilik saham dapat dividen yang tidak kecil dari Freeport, kerja bareng-bareng," ungkapnya.