Pasangan Puan-Ganjar kembali menempati urutan ketiga dengan 9,8 persen. Sementara itu Prabowo-Muhaimin unggul dengan 35,4 persen, Anies-AHY 31,2 persen, dan terakhir Airlangga-Erick 6,0 persen.
"Hasilnya seperti ini. Sama, makin menjauh. Jadi kalau Puan nomor satu itu jeblok banget gitu ya. Dan Ganjar nggak bisa nolong keadaan itu,
"Pokoknya sudah tersingkir, yang tidak bisa masuk ke putaran kedua," kata Saiful.
Dari dua simulasi di atas, Saiful berkesimpulan bahwa berkoalisi wajib hukumnya untuk PDIP. Meski dua kali menang Pemilu dan mengantongi tiket menhusung sendiri capres-cawapres, PDIP tidak bisa melenggang sendirian bila kembali ingin menang.
"Jadi bagi PDI Perjuangan berkoalisi itu adalah sebuah kebutuhan politik yang tidak bisa dihindarkan. Ada suka ataupun tidak, kenyataannya adalah publik pemilih ini lebih lihat koalisi itu punya nilai penting gitu ya dengan partai apapun dan dengan tokoh siapapun," kata Saiful.
"Kalau sama-sama kader dari partai yang sama itu, kemungkinan akan ditinggalkan oleh pemilih dan menjadi tidak kompetitif dalam Pilpres," ujar Saiful.