Suara.com - Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fraksi PKB, Yanuar Prihatin menilai sistem proporsional tertutup memang kerap diminati partai bergaya sedikit otoriter. Ia mengingatkan bagaimana sistem tersebut telah digunakan sepanjang era Orde Baru atau Orba.
"Bagi partai politik yang punya tradisi komando yang kuat dan sedikit otoriter, sistem ini lebih disukai," kata Yanuar kepada wartawan, Rabu (4/1/2022).
Bahkan, kata Yanuar, sistem proporsional tertutup juga disukai para kader partai politik yang berjiwa oportunis, elitis dan tidak mampu berkomunikasi dengan publik.
"Sistem proporsional tertutup adalah peluang terbesar bagi karier pribadinya," ucap Yanuar.
Padahal ia mengingatkan, sistem proporsional tertutup di masa lalu telah menghasilkan oligarki di dalam partai. Tertutupnya kompetisi antara sesama kader, dan melahirkan para politisi yang lebih mengakar ke atas dari pada ke bawah.
"Lho, masa iya sih sistem pemilu seperti itu masih mau dipertahankan? Justru karena kita semua memahami bahwa ada salah arah. Maka akhirnya sistem proporsional terbuka dijadikan kesepakatan bersama sejak Pemilu 2009," tutur Yanuar.
Kembali ke era Orba, sistem proporsional tertutup memberikan dampak negatif. Di mana rakyat tidak kenal calon yang akan mewakili mereka di legislatif. Kata Yanuar, hal itu bak membeli kucing dalam karung.
"Rakyat mungkin debat soal mana partai politik yang akan dipilih, tetapi mereka tidak tahu siapa orang yang akan membantu memperbaiki nasibnya esok. Hubungan rakyat dengan pemilih sangat jauh karena anggota legislatif, sebagai jembatan mereka, tak ada yang bisa mereka kenal dekat," papar dia.
Yanuar berujar sistem proporsional tertutup justru mengubur kedaulatan rakyat sebagai pemilih. Sedangkan keuntungkan dinikmati mereka para segelintir elite atau pengurus partai.
Baca Juga: Agus Harimurti Yudhoyono Tolak Wacana Sistem Pemilu Tertutup, Akibatnya Bisa Begini
"Pada saat itu jangan harap muncul partisipasi politik rakyat dalam skala massif, yang ada adalah mobilisasi untuk arak-arakan di jalan raya," kata Yanuar.