Kisah Anak Buruh Tani Korban Tragedi Kanjuruhan, Terpaksa Cari Utangan untuk Biaya Rawat Jalan karena RS Penuh

Chandra Iswinarno Suara.Com
Kamis, 06 Oktober 2022 | 12:40 WIB
Kisah Anak Buruh Tani Korban Tragedi Kanjuruhan, Terpaksa Cari Utangan untuk Biaya Rawat Jalan karena RS Penuh
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk lapangan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). [ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

"Saya cuma menangis saja, baru berhenti menangis ketika bertemu keluarga," ucap Saguwanto.

Tak kalah sedihnya, Ibu Saguwanto, Dewi Fitri mengaku kepanikan terjadi di keluarganya saat mengetahui sang anak jadi korban Tragedi Kanjuruhan. Pun ia sempat kehilangan jejak Saguwanto usai Tragedi Kanjuruhan pecah.

"Kami semua panik, karena anak saya dicari ke semua rumah sakit tidak ada. Baru Minggu pagi anak saya ketemu," katanya.

Saat menjenguk anaknya, ia mengungkapkan kala itu kondisi Saguwanto cukup parah. Pun tak lama, ia dibolehkan pulang ke rumah oleh pihak RS walaupun Saguwanto seharusnya tetap dirawat di RS Kanjuruhan. Saat itu, ia menceritakan ruang perawatan di RS tersebut penuh.

"Akhirnya, anak saya dipulangkan. Saya bawa ke rumah, manggil bidan desa untuk membantu memasangkan infus dan merawat langsung," ujarnya.

Cari Utangan untuk Rawat Jalan

Selama perawatan di rumah, Dewi harus mengeluarkan biaya pribadi bahkan sampai mencari utangan untuk perawatan anaknya.

"Kalau biaya waktu perawatan di rumah sakit gratis. Karena dipulangkan, ya mau nggak mau saya cari utangan sendiri. Sudah habis Rp750 ribu hari ini. Ayahnya juga masih mencari utangan lagi," papar Dewi.

Untuk diketahui, Keluarga Saguwanto tergolong keluarga prasejahtera. Hanya memiliki kartu berobat KIS.

Baca Juga: Ketua Panpel Arema Pernah Disanksi Komdis PSSI 20 Tahun pada 2010, Kok Bisa ke Lapangan Lagi Sebelum Waktunya?

Ayah Saguwanto, Mahfud, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani, hanya bisa berharap anaknya bisa kembali sembuh.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI