'Liga 1 Bersaing dengan Liga Dangdut', Mengapa Pertandingan Sepak Bola Sebaiknya Digelar Sore, Bukan Malam Hari?

Farah Nabilla Suara.Com
Selasa, 04 Oktober 2022 | 11:46 WIB
'Liga 1 Bersaing dengan Liga Dangdut', Mengapa Pertandingan Sepak Bola Sebaiknya Digelar Sore, Bukan Malam Hari?
Para pemain dan ofisial Arema FC duduk melingkar di Stadion Kanjuruhan, Malang, Senin (3/10/2022). [dok. BeritaJatim]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Namun tipikal penonton Indonesia di jam primetime lebih menyukai tayangan seperti sinetron, drama korea atau acara music dangdut. Sementara pertandingan sepak bola kurang diminati oleh penonton di jam primetime tersebut.

“Jadi Liga 1 ini bersaing dengan Liga Dangdut yang lebih menjual,” ujar Nugroho.

Karena itulah terkadang pertandingan sepak bola mengalah dan menggeser waktunya lebih cepat menjadi sore hari.

Alasan keamanan

Selain alasan komersil, dalam menggelar pertandingan sepak bola, penyelenggara dan aparat juga mempertimbangkan aspek keamanan. Menurut Nugroho, waktu yang paling baik untuk melaksanakan pertandingan sepak bola dari segi keamanan adalah sore hari.

Ia mengatakan, pertandingan sepak bola yang digelar siang atau sore hari akan memudahkan aparat untuk melakukan tindak pengamanan jika terjadi keributan pada pertandingan itu.

Hal ini juga terkait dengan tipikal penonton sepak bola yang hadir di stadion. Menurut analisa Nugroho, sedikitnya ada tiga jenis penonton sepak bola yang hadir di stadion, pertama adalah penonton kelas bawah yang biasanya terdiri dari supporter fanatik yang rela melakukan apa saja hanya demi menonton pertandingan klub kesayangannya, termasuk melanggar peraturan.

“Istilahnya ‘Romli” yah, rombongan lillahi ta’ala [rombongan liar], datang kalau dapat tiket syukur, kalau tidak dapat yah nyopet,” ujar Nugroho.

Kedua adalah tipe penonton kelas menengah yang memiliki kecenderungan fanatisme, namun masih mengikuti peraturan, seperti membeli tiket dan duduk dengan tertib di tribun selama pertandingan berjalan.

Baca Juga: Presiden Jokowi Akan Serahkan Langsung Santunan Rp50 Juta untuk Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan

Terakhir adalah kelompok kelas atas, yang merupakan penikmat pertandingan sepak bola dan biasanya berasal dari kalangan orang kantoran.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI