Karena itulah sang pegiat media sosial meminta Menteri BUMN Erick Thohir sampai Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok untuk ikut bertanggung jawab.
"Jadi yang harus dibenahi ini Pertamina. Masa udah jualan bensin paling mahal, rugi pula Rp191 triliun. Nggak bener ini namanya," kritiknya.
"Mohon maaf Pak Erick Thohir, katanya Bapak lagi benah-benah BUMN.. benahin ini Pak!" sambungnya, lalu turut meminta Ahok untuk ikut membenahi isu yang sama.
Kritikan Abu Janda ini rupanya mendapat dukungan dari banyak warganet. Meski begitu, sebagian warganet juga menilai perbandingan dengan Malaysia kurang tepat karena kebutuhan konsumsi BBM di negara tersebut yang cuma seperlima dari Indonesia.
"Padahal kita beli bensin gak pernah utang... ko Pertamina Rugi," komentar warganet.
"Pertaminanya di audit donk," desak warganet lain.
"Mr BTP gak ada suaranya terkait ini, padahal dulu kaya macan, ntah kenapa sekarang kok hening," timpal yang lainnya.
PKS Juga Mengecam Keras Kenaikan Harga BBM
![Sejumlah pengendara memadati SPBU di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, sebelum harga BBM naik Pukul 14.30 WIB [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/09/03/85811-spbu.jpg)
Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PKS, Mulyanto, menilai kebijiakan menaikkan harga BBM sangat tidak masuk akal. Pasalnya harga minyak dunia saat ini sudah turun ke kisaran USD80 per barel.
Baca Juga: Demo Mahasiswa Tolak Kenaikan BBM di Jakarta: Dimulai Salat Zuhur, Bubar saat Kumandang Azan Magrib
Angka ini, menurut Mulyanto, jauh di bawah asumsi makro harga ICP yang ditetapkan pemerintah, yakni USD100 per barel.