Alhasil, dalam menyampaikan hal-hal yang terkait bimbingan ibadah, baik saat kedatangan dan menjelang kepulangan jemaah haji kurang maksimal karena tidak didukung dengan sound system yang cukup.
Kemudian banyaknya jemaah haji yang masih menginginkan berihram dari Bandara Jeddah sehingga menyebabkan suasana riuh dan terburu-buru karena keterbatasan toilet dan waktu tunggu.
"Bahkan ada ditemukan petugas kloter yang belum mengerti manasik, seperti sudah berniat dan memakai ihram di atas pesawat tetapi masih memakai rompi petugas dengan alasan agar jemaah haji mengenalinya," lanjut Zulkarnain.
Selain itu, terdapat Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) yang masih memakai identitas dan atribut KBIHU-nya. Ada pula KBIHU yang menganjurkan jemaah haji untuk mengambil miqat di bandara Jeddah tanpa terlebih dahulu mandi dan memakai ihram sejak dari embarkasi.
Ada juga ditemukan jemaah haji yang memilih melaksnakan haji ifrod (terus memakai ihram sejak kedatangan sampai selepas lontar Aqobah), ketimbang haji tamattu'.
Zulkarnain pun memberi solusi dan saran atas tantangan dan kendala tersebut, yakni perlu penambahan prasarana kerja untuk penunjang kelancaran tugas, pengadaan sound system yang memadai dan perlu pemahaman kepada KBIHU dan jemaah haji agar sudah berihram dari embarkasi.
Lalu perlu penguatan bimbingan manasik bagi petugas, sosialisasi pelarangan sejak di embarkasi dan TPIHI bisa tegas dalam menertibkan cara miqot jemaah haji sejak di embarkasi.
"TPIHI juga wajib melaporkan ke Bimbingan Ibadah di Daker Bandara. Serta yang paling penting perlunya secara terus menerus pemahaman yang baik akan pilihan berhaji sehingga tidak terkesan memaksakan dan memberatkan diri," tutur Zulkarnain.
Baca Juga: Curhat Petugas Bandara: Antara Rindu Keluarga dan Tugas Mulia Layani Jemaah