Pada saat itu, perlawanan Jepang kepada pihak sekutu lebih mematikan. Hal tersebut dibuktikan dengan setengah dari total korban pihak sekutu tewas pada saat tiga tahun terjadi perang di Pasifik.
Pihak sekutu kemudian membujuk Kepang untuk menyerah dengan adanya Deklarasi Potsdam, tetapi Jepang menolak tawaran tersebut. Pihak sekutu pun mengancam Jepang dengan “kehancuran segera dan total”.
Para ilmuwan Proyek Manhattan dan pemerintah AS percaya bahwa bom atom dapat mengakhiri perang dengan cepat. Kemudian, AS memilih kota manufaktur Hiroshima yang memiliki populasi sekitar 350.000 jiwa sebagai target pertama.
Pada 6 Agustus 1945 pukul 08.15 pagi, bom atom uranium yang memiliki berat 9.000 ton dan diberi nama “Little Boy” dibawa oleh pesawat pengebom B-29 dan kemudian dijatuhkan di atas ketinggian 2.000 kaki, kota Hiroshima.
Diketahui, bom tersebut meruntuhkan dan membakar sekitar 70 persen dari semua bangunan di Hiroshima dan membuat sekitar 140.000 warga Hiroshima tewas.
Sisa bom berupa radiasi nuklir membuat peningkatan penyakit kanker dan penyakit kronis lainnya pada warga yang selamat dalam peristiwa tersebut.
Setelah pengeboman di kota tersebut, sekitar 90 persen dokter dan perawat terbunuh dan hanya 3 dari 45 rumah sakit yang masih berfungsi.
Hal tersebut membuat sebagian besar korban yang selamat meninggal tanpa menerima pertolongan dan perawatan.
Setelah peristiwa tersebut, Jepang masih belum menyerah. AS kemudian menjatuhkan bom atom plutonium “Fat Man” di Nagasaki pada 9 Agustus 1945 pukul 11.02 pagi dan menewaskan sekitar 74.000 orang. Jepang pun menyerah tanpa syarat kepada pihak sekutu.
Baca Juga: Sinopsis Oppenheimer, Film Biografi Pencipta Bom Atom
Kontributor : Syifa Khoerunnisa