Acara ini dilakukan dengan iringan gamelan, yang menggema di berbagai penjuru Pendopo GMT. Semar, Gareng dan Petruk berjejer di balik kelir, kain putih yang digunakan sebagai tempat memainkan wayang.
Dalam Ruwat Agung Nuswantara kali ini, Pemkab Mojokerto memilih tidak menampilkan teatrikal atau tari-tarian yang biasanya dimainkan puluhan para pelaku seni, tapi diganti dengan gelaran wayang kulit, yang juga merupakan salah satu kesenian Nusantara.

"Karena pada saat perencanaan, kita berasumsi masih dalam masa pandemi Covid-19, sehingga kita laksanakan seminimalis mungkin, namun tidak mengurangi esensi," ujar Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Mojokerto, Norman Hanandhito dalam sambutannya.
Tak hanya pertunjukan wayang kulit, dalam Ruwat Agung Nuswantara ini juga dilakukan proses jamasan pusaka milik Pemkab Mojokerto. Sedikitnya ada 95 keris pusaka yang masuk kategori keris sepuh dan 113 keris putra atau keris duplikat yang masuk kategori keris pusaka.
"Sementara untuk keris replika atau keris contoh sebanyak 21 buah. Untuk jamasan, kita mengambil air dari 7 sumber mata air yang ada di Mojokerto," jelas Norman.