Sejarah Malam 1 Suro, Tahun Baru Jawa yang Berbarengan dengan 1 Muharram

Jum'at, 29 Juli 2022 | 13:00 WIB
Sejarah Malam 1 Suro, Tahun Baru Jawa yang Berbarengan dengan 1 Muharram
Ilustrasi sejarah malam 1 suro - Penjamasan pusaka berusia 700 tahun jelang peringatan satu Suro di Desa Sidomulyo Cepiring Kendal. [Ayosemarang.com -- jaringan Suara.com]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Malam 1  Suro menjadi penanda awal bulan pertama pada Tahun Baru Jawa atau kalender Jawa. Biasanya 1 Suro ini berbarengan dengan 1 Muharam pada kalender Hijriah atau Tahun Baru Islam. Seperti apa sejarah Malam 1 Suro?

1 Suro merupakan hari pertama pada kalender Jawa. Penanggalan Jawa ini dihitung berdasarkan penggabungan kalender Islam ( lunar), kalender Masehi (matahari) dan Hindu.

Umumnya, peringatan 1 suro dilakukan pada malam hari usai magrib. Pasalnya, pergantian hari atau tahun Jawa dimulai saat terbenam matahari dari hari sebelumnya. Jadi, peringatam 1 Suro ini bukan pada waktu tengah malam seperti pergantian Tahun Baru Masehi.

Biasanya pada peringatan Malam 1 Suro yang kental dengan budaya Jawa ini terdapat berbagai ritual tradisi seperti kirab atau iring-iringan rombongan masyarakat. Perayaan 1 Suro ini biasanya berlangsung di Pulau Jawa yang tersebar pada beberapa daerah. 

Misalnya di Solo, terdapat tradisi kebo bule perayaan malam 1 Suro. Sedangkan di Yogyakarta, terdapat tradisi kirab atau iring-iringan dengan membawa keris atau benda pusaka pada perayaan malam satu Suro.

Lantas, sebenarnya bagaimana sejarah Malam 1 Suro? Melansir dari situs Belajar Kemendikbud, berikut ini ulasan sejarahnya.

Sejarah Malam 1 Suro

Sebagai upaya memperkenalkan kalender Islam pada masyarakat Jawa, Sunan Giri II coba membuat penyesuaian antara sistem kalender Jawa dan sistem kalender Hirjiyah pada tahun 931 Hijriah atau bertepatan dengan  1443 tahun Jawa baru pada masa pemerintahan kerajaan Demak.

Pada masa itu, Sultan Agung ingin rakyatnya bersatu untuk memerangi Belanda di Batavia, sekaligus ingin menyatukan Pulau Jawa. Maka dari itu, Sultan Agun berharap rakyatnya tidak terbelah, terlebih lagi oleh keyakinan agama. Dia ingin abangan dan kelompok santri bersatu. 

Baca Juga: Keraton Kasunanan Surakarta Pastikan Kerbau Keturunan Kyai Slamet Ikuti Kirab Malam 1 Sura

Pada tiap Jumat legi, laporan pemerintahan setempat pun dilakukan sambil digelar pengajian oleh penghulu kabupaten, sekaligus ziarah kubur serta haul ke makam Giri dan Ngampel. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI