Berkaca dari Krisis Sri Lanka: Apa Penyebab Negara Bisa Bangkrut?

Kamis, 23 Juni 2022 | 19:18 WIB
Berkaca dari Krisis Sri Lanka: Apa Penyebab Negara Bisa Bangkrut?
Demo warga akibat krisis ekonomi di Sri Lanka. (foto: AFP)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Layaknya sebuah bisnis, negara bisa mengalami kebangkrutan. Sebuah negara dapat dinyatakan bangkrut salah satunya berkaca dari Sri Lanka usai mengalami gejolak ekonomi dibarengi dengan utang negara yang semakin menggunung.

Pemerintah Sri Lanka kini resmi menyatakan bahwa negaranya mengalami kebangkrutan pada Kamis (23/6/2022). Laman berita The Guardian melaporkan bahwa Sri Lanka dinyatakan bangkrut setelah menghadapi kekurangan ketersediaan bahan pokok dari bahan bakar, listrik, hingga makanan.

Ranil Wickremesinghe selaku Perdana Menteri Sri Lanka juga telah berjanji akan mencari bantuan dari donor internasional demi mengatasi kebangkrutan yang mereka alami.

Berkaca dari kasus Sri Lanka, apa penyebab negara bisa bangkrut? Berikut penjelasannya.

Penyebab negara bisa bangkrut

Beberapa ekonom sepakat bahwa mengukur negara bisa bangkrut dari kemampuan untuk membayar utang. Jika negara sudah tidak kuasa untuk membayar utang sama sekali maka itu menjadi pertanda kuat bahwa negara tersebut mengalami kebangkrutan.

Utang tersebut juga merambah ke berbagai hal, tak terkecuali iklim politik yang semakin memanas akibat krisis ekonomi. 

Jika dibarengi dengan melemahnya nilai tukar, maka negara akan semakin terancam bangkrut lantaran tidak kuasa untuk membayar utang negara yang juga dipengaruhi oleh nilai tukar.

Selain dari ketidakmampuan untuk membayar utang (gagal bayar/default), negara dinyatakan bangkrut jika tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dari komoditas seperti bahan bakar minyak hingga kebutuhan yang lebih mendasar yakni pangan.

Baca Juga: 5 Fakta Sri Lanka Bangkrut, Berbulan-bulan Tak Ada Persediaan Makanan

Negara juga terancam bangkrut jika mengandalkan komoditas global secara ketergantungan. Apabila kondisi pasar global mengalami krisis, maka tidak mustahil bila negara yang bergantung pada komoditas global akan pontang-panting untuk memenuhi stok kebutuhan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI