Suara.com - Militer Ukraina mengatakan pada hari Selasa (17/05) bahwa mereka berupaya mengevakuasi semua pasukan yang tersisa dari benteng terakhir di pelabuhan Mariupol yang terkepung dan menyerahkan kendali kota itu ke Rusia.
Evakuasi pasukan Ukraina di Mariupol kemungkinan menandai akhir dari pertempuran terpanjang invasi Rusia dan kekalahan signifikan bagi Ukraina.
Mariupol sekarang berada dalam reruntuhan, setelah militer Rusia mengepung dan diduga telah menewaskan puluhan ribu orang di kota itu.
"Garnisun 'Mariupol' telah memenuhi misi tempurnya," kata Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina dalam sebuah pernyataan yang mengumumkan evakuasi.
"Komando tertinggi militer memerintahkan komandan unit yang ditempatkan di Azovstal untuk menyelamatkan nyawa personel … Pasukan di Mariupol adalah pahlawan di zaman kita,” tambahnya.
Wakil Menteri Pertahanan Ukraina Anna Malyar mengatakan 53 tentara yang terluka dari pabrik baja Azovstal dibawa ke rumah sakit di kota Novoazovsk yang dikuasai Rusia, sekitar 32 km ke timur, sementara 211 orang lainnya dibawa ke kota Olenivka, sebuah daerah yang dikuasai oleh separatis yang didukung Rusia.
Semua pengungsi akan menghadapi pertukaran tahanan potensial dengan Rusia, tambahnya.
Sekitar 600 tentara diyakini masih berada di dalam pabrik baja tersebut. Militer Ukraina mengatakan saat ini sedang dilakukan upaya untuk mengevakuasi mereka yang masih berada di dalam.
"Kami berharap dapat menyelamatkan nyawa orang-orang kami," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pidatonya di pagi hari.
Baca Juga: Rusia Serang Azovstal, Evakuasi Warga di Mariupol Tetap Berlanjut
"Ada yang terluka parah di antara mereka. Mereka menerima perawatan. Ukraina membutuhkan mereka hidup-hidup." Reuters melihat lima bus yang membawa pasukan dari Azovstal tiba di Novoazovsk pada Senin malam (16/05).