"Lagi ngaso to Pak."
![Suasana Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, pada H-5 Lebaran, Rabu (27/4/2022). [ANTARA/Shofi Ayudiana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/04/27/84136-pemudik-di-stasiun-pasar-senen.jpg)
"Nggih Mas, ngaso-ngaso sek."
Menganggur karena Pandemi
Selama dua tahun ke belalang, khususnya selama masa pandemi Covid-19, skena porter bak dihantam dentuman hebat. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya pemerintah masih membatasi perjalanan kereta api untuk jarak jauh.
Pada masa-masa itu, para porter jarang sekali berjumpa tokoh bernama pemudik di Stasiun Pasar Senen. Otomatis, pemasukan para porter, termasuk Kuanto juga turun.
"Wah dua tahun ke belakang benar-benar sepi."
Kuanto sendiri, selama dua tahun ke belakang harus menganggur karena sepinya penumpang di Stasiun. Bahkan, dia sempat pulang sejenak ke kampung halaman sembari menunggu informasi baru terkait pekerjaaannya tersebut.
"Aku nganggur dua tahun ke belakang. Ndak kerja," ucap dia.
Dalam gelanggang pekerjaan ini, seorang porter hanya mendapat upah dari penumpang yang menggunakan jasanya saja. Artinya, mereka tidak mempunyai penghasilan tetap setiap bulannya.
Baca Juga: Mudik Bersama Si Kecil, Ini 3 Pesan dari Pakar Kesehatan Agar Perjalanan Sehat dan Aman
"Ya kalau kerja begini hanya berganti dari pemudik saja. Mereka kasih seikhasnya. Kadang Rp20 ribu, kadang di-lebihin sampai Rp50 ribu," kata Kuanto.