
Saya mendekat, mencoba membikin peristiwa perjumpaan dengan Kuanto. Pertanyaan klasik kembali menjadi senjata ampuh untuk memulai perbincangan di antara riuh pemudik di Stasiun Pasar Senen.
"Nek penumpang, paling banyak pagi, siang, sore, atau malam, Pak?"
"Ya jam-jam segini Mas, siang menuju sore. Ini 3 KA sudah siap berangkat. Gumarang, Jayabaya, sama Jayakarta."
Kepada saya, Kuanto sudah melakoni profesi portet sejak tahun 2000 di Stasiun Pasar Senen. Saat itu, usianya masih 19 tahun.
Dari pengalaman seperti itu, sudah menjadi barang tentu bagi Kuanto khatam terkait alur kerja seorang porter. Meski sudah berkeluarga, Kuanto tidak tinggal bersama anak dan istri -- sebab mereka berada di Kebumen, Jawa Tengah, kampung halaman Kuanto.
Perjumpaan kami berdua, saat itu terbilang singkat. Seorang ibu-ibu tampak sedang membawa koper dan seorang lainnya menggotong kardus, kemudian hendak mencari pintu keberangkatan.
Dengan cekatan, Kuanto kembali memainkan perannya di dalam gelanggang mudik 2022 tersebut. Sebagai prolog, Kuanto berkata:"Pripun, ada yang bisa dibantu Bu?"
"Kalau KA Gumarang pintu mana nggih Pak?"
"Oh teng meriki -- sambil menunjuk pintu pemberangkatan."
Baca Juga: Mudik Bersama Si Kecil, Ini 3 Pesan dari Pakar Kesehatan Agar Perjalanan Sehat dan Aman

Tiba-tiba pengeras suara terdengar. Seorang operator memberikan pengumuman bagi para pemudik yang keretanya sebentar lagi berangkat agar bersiap-siap. Jeda itu membikin saya tidak dapat mendengar percakapan Kuanto dan pemudik itu.