Pakar trauma Sabine Tschainer-Zangl telah berbicara dengan puluhan manusia lanjut usia (manula) berusia antara 83 sampai 100 untuk sebuah proyek penelitian.
Sejak perang pecah di Ukraina 24 Februari lalu, banyak dari mereka hanya ingin membicarakan tentang perang, katanya kepada DW.
"Mereka mengatakan betapa kasihannya orang-orang di Ukraina. Mereka benar-benar dapat apa yang dirasakan para korban. Itu membuat mereka menghidupkan kembali trauma mereka sendiri, dan sangat sulit untuk masuk ke dalam pikiran itu," kata Sabine Tschainer-Zangl.
"Saya menyaksikan keputusasaan dalam pembicaraan-pembicaraan itu. Saya melihat orang-orang menangis," ujarnya.
Bagi para penyintas Perang Dunia Kedua, gambaran keputusasaan, kehancuran, pelarian, dan kematian di Ukraina memicu kembali kenangan buruk mereka.
"Di Jerman," kata Sabine Tschainer-Zangl, "diperkirakan ada sekitar 30% warga yang berusia di atas 67 tahun yang mengalami trauma perang, dan ini sekarang muncul kembali."
Ada juga rasa bersalah dan malu
Namun, karena Jerman pada Perang Dunia Kedua merupakan pihak yang melakukan agresi dan bertanggung jawab atas penderitaan yang tak terukur besarnya, ada perasaan "malu dan bersalah.
Ini membuat orang sulit menghadapi trauma dan menanganinya," kata Sabine Tschainer-Zangl.
Baca Juga: Perang Ukraina: Seberapa Besar Biaya yang Dikeluarkan Rusia Sejauh Ini?
Klaus Gradowski, 74 tahun, termasuk generasi anak-anak pascaperang yang dibesarkan setelah Perang Dunia Kedua berakhir.