Misionaris Keliling Dunia Menyebarkan Agamanya, Apa Saja Risikonya?

SiswantoABC Suara.Com
Jum'at, 17 Desember 2021 | 15:45 WIB
Misionaris Keliling Dunia Menyebarkan Agamanya, Apa Saja Risikonya?
Ilustrasi berdoa [shutterstock]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Ketika tiga orang misionaris Kristen yang diculik dan disandera di Haiti selama dua bulan akhirnya dibebaskan pekan ini, ada momen kegembiraan yang tertunda.

Ketiganya dibebaskan menyusul dua misionaris lainnya yang telah dibebaskan bulan lalu.

Tapi kelegaan yang menyelimuti momen ini dibayangi oleh nasib 12 orang yang membantu misi yang hingga kini tetap disandera.

Misi ini terdiri atas 16 warga Amerika Serikat dan satu warga Kanada, termasuk lima anak berusia delapan bulan.

Saat sedang dalam perjalanan pulang ke asramanya pada 17 Oktober lalu, bus mereka dicegat oleh geng 400 Mawozo yang terkenal kejam, di luar ibu kota Haiti, Port -au-Prince.

Para penculik menuntut AS$1 juta dolar per sandera. Beberapa hari kemudian, pemimpin geng Wilson Joseph muncul dalam sebuah video media sosial yang mengancam akan membunuh para misionaris dan memperingatkan pihak berwenang yang enggan bernegosiasi.

"Saya akan membuatmu menangis darah," kata Wilson sesumbar.

Christian Aid Ministries (CAM) yang berbasis di Ohio, Amerika Serikat, adalah organisasi misionaris yang mengirim mereka ke Haiti.

CAM kini fokus pada misionaris yang masih disandera, terus meminta dukungan bagi pembebasan mereka.

Baca Juga: Jumlah Korban Akibat Ledakan Truk Bahan Bakar di Haiti Bertambah, Jadi 75 Orang

Penculikan ini menjelaskan situasi genting di Haiti sekaligus memicu kembali perdebatan soal apakah misionaris lebih banyak mendatangkan kerugian, ketimbang kebaikan di negara-negara berkembang.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI