"Bahkan mereka juga datang ke lokasi untuk melakukan kuliah di lapangan melihat sungai bawah tanah. Kemudian belajar kepada masyarakat akademisi-akademisi yang sebelumnya kita pandang mereka berdiri di menara gading dan tidak mau turun ke lapangan itu benar-benar membuat salut," ujarnya.
Bukan hanya akademisi saja, para ibu-ibu Kendeng juga terus menjalankan aksi untuk membatalkan adanya pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara.
"Setelah Yu Patmi meninggal juga gerakan masyarakat tidak berhenti karena kemudian ibu-ibu datang lagi untuk melakukan aksi kemudian mendirikan tenda di depan Istana dan juga mengundang akademisi-akademisi untuk memberikan kuliah di depan Istana."