Satu dari dua poster yang berhasil dibentangkan ialah poster bertuliskan ‘Pak Tolong Benahi KPK’. Foto-foto ketika Bagus membentangkan poster itu viral di media sosial. “Saya itu dua kali bentangkan poster, pas Pak Ganjar (Gubernur Jawa Tengah) dan Pak Jokowi melintas,” katanya.
Aksi membentangkan poster yang dilakukan Bagus berlangsung singkat. Hanya berkisar 10 menit. Tiba-tiba lima orang berambut cepak dan berbadan tegap dengan pakaian biru muda dan putih dilengkapi handy talky alias HT menghampirinya. Tanpa berucap mereka merampas poster dan menggeledah badan Bagus. “Saya pun langsung ditangkap,” beber Bagus.
![Tangkapan layar video seorang pria membentangkan poster saat kunjungan Presiden Jokowi ke Kota Blitar, Selasa (7/9/2021). [Foto: Times Indonesia/Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/09/07/95715-seorang-pria-membentangkan-poster-saat-kunjungan-presiden-jokowi-ke-kota-blitar.jpg)
Tak pernah terbayang olehnya, poster permintaan ‘tolong’ itu akan berujung penangkapan. Dalam pikirannya, paling poster tersebut hanya dirampas. Ia mengaku panik dan cemas saat digelandang ke dalam sebuah mobil. Saat itu dia hanya seorang diri. Ia baru sedikit tenang ketika beberapa temannya menyusul digelandang ke mobil tersebut. “Sempat panik juga dalam posisi itu. Alhasil ya mungkin karena saya nggak sendiri, itu sedikit menenangkan,” katanya.
Dalih Polisi
Sekitar pukul 12.00 WIB siang, Bagus bersama sembilan kawannya digiring masuk mobil polisi lalu dibawa ke Mapolresta Surakarta untuk diperiksa. Di kantor polisi ia diperiksa selama hampir 4 jam. “Di Polres kami diperiksa sampai pukul 15.30 WIB dan baru dipulangkan pukul 16.00 WIB,” ujarnya.
Memang tak ada kekerasan selama proses pemeriksaan. Namun saat penangkapan beberapa diantara mereka ada yang digampar dan dipukul.
Bagus dan kawan-kawannya, mahasiswa UNS Solo sudah meminta kepada pihak universitas agar dipertemukan dengan presiden untuk menyampaikan aspirasi. Namun permintaan tersebut tidak mendapat respon, hingga akhirnya mereka secara spontanitas mencoba menyampaikan aspirasi melalui sebuah poster.
“Terus begaimana solusinya selain ini?” mereka bertanya balik ke polisi. “Akhirnya kami juga belum dapat hal yang memuaskan ketika bapak polisi itu menyampaikan kepada kami. Intinya itu mereka melarang kami menyampaikan pesan lewat poster,” imbuh Bagus.
Setelah apa yang terjadi di balik peritiwa ini, Bagus tetap berusaha merawat keberanian dalam dirinya. Mengkritisi pelbagai permasalahan yang merugikan rakyat dan mecoba menyampaikan aspirasinya. “Tapi secara trauma mungkin awal-awal penangkapan, mungkin agak wah seperti ini ternyata. Itu menjadi hal yang paling mengena,” tuturnya.
Baca Juga: Bantah Wacana Tambah Periode Presiden Jokowi, Komisi II DPR Tegaskan Pemilu Tetap 2024
Traumatis akibat tindakan represif aparat tak dipungkiri masih mebekas dalam diri Bagus. Terlebih, bahasa sopan ‘meminta tolong’ saja tak bisa menjaminnya bebas dari tindakan represif aparat.