“Kuncinya itu adalah ketika mencium bau tidak enak, jangan sampai dilawan. Jadi tetap saja dihirup, jangan meludah itu saja. Kalau di awal tidak tahan ulangi, kalau bisa jangan sampai meludah,” ujar Agung membocorkan triknya itu.

Ikut Bersedih
Layaknya manusia pada umumnya, dokter forensik juga memiliki perasaan, yang terkadang membuat mereka larut dalam emosi.
“Kadang-kadang kami juga bisa larut,” ujar Agung.
Pada sebuah tragedi, seperti dalam kecelakaan pesawat, korban dapat beraneka ragam latar belakangnya, mulai dari anak-anak sampai orang tua yang memasuki usia senja.

Tentunya para korban adalah orang-orang yang sangat dicintai oleh keluarganya. Kepergian mereka adalah kehilangan mendalam bagi yang ditinggalkan.
Namun kata Agung, perasaan itu harus mereka lawan, jika tidak, akan mempengaruhi proses identifikasi yang sedang berlangsung. Dalam arti mereka harus objektif, menarik diri dari perasaan itu, demi kelancaran proses identifikasi.
Dokter lulusan Universitas Indonesia ini berkata, pada situasi itu mereka harus berpikir logis, menjalani tugas dengan menganggapnya bagian dari proses ilmiah.
“Tapi kami kembali lagi ke tugas utama kami, untuk mengidentifikasi. Hal-hal semacam itu (rasa duka, perasan sedih) bisa kami singkirkan,” ujarnya.
Baca Juga: Penyebab Kebakaran Pasar Bawah Bukittinggi Belum Jelas, Polisi Masih Kumpulkan Barang Bukt
Obrolan kami dengan dr Agung Wijayonto berakhir bersamaan dengan azan Magrib yang berkumandang. Setelah panjang lebar menceritakan pekerjaannya yang bersinggungan dengan orang mati, Agung pun lekas beranjak dari tempat duduknya, menuju salah satu musala kecil untuk melaksanakan salat.