Lamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang hidupnya di laut. Ketika lamun rusak, menurut Billy butuh, perlu waktu di atas enam bulan untuk lamun bisa sembuh kembali.
“Waktunya agak lama, maka dari itu perlu ada pengawasan untuk tahu perkembangannya,” ujarnya.
Di Waigama, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, nelayan seperti Amir maupun Abdul, berharap lamun tak mengalami penurunan luasan tutupan hingga kerusakan. Untuk itu mereka meminta perhatian serius dari pemerintah.
Tanpa lamun, warga pesisir sulit menghindari pasang surut berkepanjangan, air laut yang memanas, hingga sulitnya mendapatkan ikan yang melimpah.
“Kita punya lamun harus jaga, Kami tak mau ada yang merusak."
--------------------------------------------------
Catatan redaksi: Peliputan artikel ini dilakukan oleh Erick Tanjung dan Abdus Somad. Liputan ini juga hasil kolaborasi dengan kelompok peneliti Ekologi Spasial, P2O LIPI.
Liputan ini didukung oleh program Fellowship Peliputan Perubahan Iklim “Menuju COP26 di Glasgow : Memperkuat aksi dan ambisi iklim Indonesia, yang diselenggarakan oleh The Society of Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) bekerja sama dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia.
Baca Juga: Wapres Ajak Wisata ke Raja Ampat dengan Prokes, Tuai Kritikan Publik