“Dia sengaja bawa anak, kadang gede, kadang kecil. Buat manfaatin biar (penumpang) ngasih uang banyak.”
Sedangkan Sukma mengatakan membawa anak perempuannya sama sekali bukan untuk memanfaatkannya agar orang lain menaruh rasa belas kasihan. “Kalau ada yang momong, saya akan tinggal anak saya untuk cari uang,” kata Sukma.
Anak tersebut kalau sedang tidur akan Sukma tutupi dengan selimut agar tidak menjadi perhatian orang sekitar.
“Saya narik bajaj bawa-bawa anak, bukan kemauan saya, ini memang karena keadaan yang menuntut saya bawa anak.”
Anak perempuan Sukma sudah terbiasa ikut narik bajaj, bahkan semenjak masih dalam kandungan.
“Waktu di kandungan, lehernya pernah kecekik tali puser. Jadi hari itu juga dioperasi sesar. Makanya sampai sekarang dia tahu diri. Dia diajak ngebajaj dia tahu. Dia nggak rewel. Sampai ada penumpang saya yang bilang anak saya pinter ya, nggak rewel.”
“Kalau dia rewel, saya gendong sembari nyetir. Kalau nggak bisa ditangani, saya tetekin sambil berhenti dulu.”
Di tengah pandemi Covid-19, sebenarnya Sukma memiliki kekhawatiran akan terpapar virus. Tiap hari dia bertemu dengan penumpang yang kadangkala tidak menerapkan protokol kesehatan. Tapi dia tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja melayani mereka.
“Niat saya baik, bismillah. Saya lillahi taala saja. Abis gimana.”
Baca Juga: Kisah Penjaga Makam: Menjawab Apa Saja yang Terjadi di Kuburan
Untuk mencegah tertular Covid-19, Sukma biasanya selalu menutupi hidung anaknya dengan kain. Tapi itu bukan pekerjaan mudah karena setiap kali anak bangun tidur, dia pasti menarik dan melepaskan kain.