Angka ini menempatkan Abdala di jajaran yang sama dengan vaksin paling efektif saat ini, yaitu BioNTech-Pfizer dan Moderna.
Abdala disebut sebagai sebuah vaksin protein, bukan vaksin vektor ataupun vaksin dengan teknologi mRNA.
Vaksin tersebut membawa sebagian protein spike yang digunakan oleh virus untuk mengikat sel manusia. Ia merapat ke reseptor protein spike dari virus itu sendiri, sehingga memicu reaksi kekebalan. Untuk domain pengikat reseptornya, para ilmuwan menggunakan ragi.
Meskipun uji klinis fase ketiga belum selesai, pemerintah Kuba telah meluncurkan program vaksinasinya pada pertengahan Mei dengan menggunakan Abdala dan vaksin lokal kedua bernama Soberana 2.
Vaksin-vaksin ini adalah vaksin pertama di negara itu sejak Kuba menolak mengimpor vaksin dari Rusia ataupun Cina. Kuba juga telah memutuskan untuk tidak bergabung dengan inisiatif COVAX yang didukung PBB.
"Kami tahu pada akhirnya kami harus selalu mengandalkan diri sendiri, pada kekuatan dan kemampuan kami sendiri,” kata Guillen Nieto, menyinggung isolasi politik yang disebabkan oleh embargo AS.
"Hasilnya adalah sistem perawatan kesehatan yang tidak hanya bebas biaya tapi juga dikendailkan secara terpusat. Selain itu, hal ini juga telah menyempurnakan kemampuan kami untuk merespons bencana dengan cepat, baik itu dalam uji klinis, kampanye vaksinasi atau bahkan produksi vaksin,” tambahnya.
Vaksinasi untuk menahan laju infeksi COVID-19
Vaksin Abdala diberikan dalam tiga dosis, dengan selang waktu dua minggu di setiap suntikannya.
Baca Juga: Kuba Bikin Vaksin Sendiri, Efektivitasnya Disebut Capai 92 Persen
Menurut Guillen Nieto, 2,2 juta orang di Kuba telah menerima dosis pertama. Sementara, 1,7 juta orang telah menerima dosis kedua, dan 900 ribu orang telah menerima dosis ketiga. Berdasarkan rencana ambisius pemerintah Kuba, 70% dari populasi negara harus sudah divaksin pada bulan Agustus mendatang.