Suara.com - Sejumlah aktivis anti korupsi hingga penyidik senior KPK Novel Baswedan alami peretasan. Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) mengungkap model dan motif serangan peretasan terhadap sejumlah aktivis hingga penyidik senior KPK tersebut.
Koordinator SAFEnet, Damar Juniarto, mengatakan serangan peretasan tersebut dinamakan siber terarah atau Targeted Digital Attack.
"Jadi yang umum memang kita nggak menafikan bahwa yang edang terjadi itu adalah sebuah pratik serangan siber terarah atau targeted digital attack," kata Danar saat dihubungi Suara.com, Jumat (21/5/2021).
Damar menjelaskan, serangan tersebut tidak dilakukan secara random seperti halnya peretasan-peretasan pada umumnya yang bermotif ekonomi. Ia menilai serangan ini dilatarbelakangi masalah politik.
"Kalau yang targeted digital attack itu lebih banyak motifnya motif politik. Dan ini membedakan dengan kejadian-kejadian misalnya seputar kalau yang mengalaminya orang biasa kalo yang targeted digital attack itu high profile," tuturnya.
Damar menambahkan, serangan peretasan dengan model tersebut sudah pernah terjadi sejak 2019 lalu. Dari tahun ke tahunnya angka serangan terus meningkat.
"Misalnya tahun lalu 2020 itu kita merekam ada 147 bentuk serangan seperti itu dan itu kan angka paling besar dari 147 serangan itu tentang peretasan," tuturnya.
"Nah yang kalau di kluster sebenarnya kalau daru serangan tahun itu kita lihat bahwa kejadian-kejadian ini selalu terjadi pada saat momentum-momentum politik," sambungnya.
Peretasan
Baca Juga: Telegram Novel Baswedan dan Sujanarko Dibajak, Netizen Curiga Ini
Akun Telegram milik penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dan Direktur Pembinaan Jaringan kerja antar Komisi dan Instansi KPK, Sujanarko diduga diretas, Kamis (20/5/2021) malam.