"Kedua, mengetahui pemerintah Pak Jokowi cukup lihai menggenggam beberapa lembaga. MPR 575 orang, DPR 136 orang, DPD semuanya 711 orang, sepertinya tidak bisa berkata apa-apa," tukas dia menyoroti UU Omnibus Law Cipta Kerja yang belum lama ini menimbulkan gelombang demonstrasi massa.
"Ketika Omnibus Law yang tidak jelas asal usulnya itu, yang menentang hanya 1 atau 2 partai, umumnya yang kami dengar adalah, kami taati karena bapak presiden hebat," tegas Amien Rais menambahkan.
Sementara itu, faktor ketiga yang membuat Amien Rais mencium bau-bau kebangkitan Orde Baru di era Jokowi adalah adanya penguasa-ha, atau kerja sama berlebih antara penguasa negara dengan para pengusaha.
"Yang ketiga fenomena penguasa-ha, kita lihat pengusaha yang memegang ratusan hektar hutan mendapat lampu hijau. Mafia, taipan cukong juga melenggang," kata Amien Rais.
Sementara, indikator keempat menurut Amien Rais terjadi baru-baru ini. Saat dua keluarga Jokowi yakni Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution maju dalam kontestasi Pilkada.
"Nepotisme anak kandung Jokowi, menang telak di Solo. Menantunya di Medan ternyata juga menang. Ini nepotisme berkembang," sambung Amien Rais menerangkan.
Terakhir, Amien Rais mengendus pemerintahan Jokowi tidak mentoleransi adanya oposisi dan membangun lingkaran istana yang menurutnya tidak ada bedanya dengan era Orba.
"Tidak mentoleransi adanya oposisi, oposisi dianggap musuh, berbahaya, lawan ditindas, membangun lingkaran istana yang hanya mengiyakan. Bukan menyampaikan kritis demi negara," tandas Amien Rais.
Baca Juga: Sekolahnya Tak Layak, Siswa Ini Kirim Pesan video ke Presiden Jokowi