“Saya nggak boleh pergi untuk melamar CPNS. Sampai kepala desa bilang, sekolah akan tutup kalau sampai saya pergi,” kata Ayub. Ia mengakui, nilai-nilai toleransi antarindividu sangat kental di daerah pedalaman.
“Semoga jiwa-jiwa ikhlas mengabdi selalu tertanam dalam hati kita (para guru) untuk sisiwa-siswa agar anak-anak bisa tersenyum hari ini dan akan tersenyum kepada kita untuk Indonesia di hari esok. Maksimalkan usaha kita. Lihat hari ini bagaimana mata anak-anak kita. Di mata anak-anak itulah Indonesia di hari esok,” pesan Ayub.
Hari Guru Nasional kerap diperingati dengan meneladani sosok guru dan pengabdian mereka sebagai pendidik generasi bangsa. Jutaan guru Indonesia tersebar di berbagai wilayah Tanah Air untuk membantu menunaikan amanah Undang-Undang Dasar 1945: mencerdaskan generasi bangsa.
Kisah perjuangan guru-guru yang mengabdi di daerah pedalaman pun menjadi inspirasi dalam memajukan pendidikan Indonesia, salah satunya adalah Ayub.
Mendengar kisah Ayub, Mendikbud Nadiem Makarim menuturkan, kisah inspiratif ini membuktikan bahwa guru penggerak akan semakin terpacu motivasinya ketika dihadapkan pada tantangan yang besar.
“Semakin sulit tantangan, maka semakin terpacu. Mereka tertantang oleh situasi yang lebih sulit bukan berputus asa, tapi semangat,” ujar Mendikbud.
Di akhir perbincangan, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Iwan Syahril juga berpesan agar para guru yang mengajar di daerah3T dapat terus bersemangat dan saling memotivasi. "Tidak boleh menyerah, berani bermimpi, untuk anak-anak kita dari Sabang sampai Merauke,” tuturnya. (Denty Anugrahmawaty/Desliana Maulipaksi)