Disebut Tak Salah Copot Baliho Rizieq, Rocky Justru Kasihan dengan Pangdam

Minggu, 22 November 2020 | 16:45 WIB
Disebut Tak Salah Copot Baliho Rizieq, Rocky Justru Kasihan dengan Pangdam
Rocky Gerung Sebut Omnibus Law Menyimpang dari Konstitusi (YouTube: Rocky Gerung Official).
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Pengamat politik Rocky Gerung ikut menyoroti sikap Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman yang mengaku memerintahkan anak buahnya untuk mencopot baliho bergambar Habib Rizieq Shihab.

Terkait hal itu, Rocky Gerung menilai sikap Istana yang ambigu soal TNI merecoki urusan Habib Rizieq ini adalah sumber masalahnya. Istana sampai hari ini tidak jelas sikapnya soal momentum tersebut, mengaku tidak memerintahkan Pangdam Jaya turunkan baliho Imam Besar Front Pembela Islam itu, tapi di sisi lain tidak mengonformasi apakah tindakan Pangdam Jaya itu salah atau tidak.

Rocky menganggap sikap ambigu Istana ini makin menambah deret blunder rezim. Makanya, Rocky mengatakan jangan salahkan publik yang memunculkan meme sarkastis yang cenderung mengolok-olok institusi TNI.

“Kalau Presiden tak tahu menahu (manuver Pangdam Jaya) semestinya beri sanksi. Kan hirarki komando dalam militer yang ambil inisiatif harus perintah pejabat tingginya. Kalau hanya keterangan pers (dari staf KSP) seolah membenarkan itu artinya Istana mau ambil keuntungan dari opini publik. Ini berbahaya mau umpankan perdebatan. Baliho itu kampanye politik sipil, saya menagih kejelasan Istana soal bagaimana sikap peristiwa di Petamburan,” jelas Rocky dalam kanal Youtube Rocky Gerung Official seperti dikutip Hops.id--media jaringan Suara.com, Minggu, (22/11/2020).

Dia menilai tampilnya Pangdam Jaya dalam kasus Petamburan dan pencopotan baliho Habib Rizieq ini adalah testing water politik dan publik juga paham manuver Istana dengan mengumpankan Pangdam Jaya.

Rocky Gerung menganalisis, Pangdam Jaya jadi tameng dan dapat restu Istana, meskipun sikap Istana dalam keterangan persnya, jelas ambigu.

“Jadi kalau militer misalnya pak Pangdam Jaya anggap itu HRS keterlaluan, itu kesimpulan pribadi beliau sebagai warga negara. Kalau itu kesimpulan institusi pun, enggak ada soal, tapi kesimpulan (manuver ke HRS) itu harus disampaikan kepada Presiden, supaya Presiden yang putuskan. Apakah turunkan baliho atau enggak. Jadi tak boleh Pangdam Jaya ambil keputusan, Pangdam boleh buat kesimpulan jangan buat keputusan,” jelas Rocky.

Insiden pencopotan baliho Habib Rizieq oleh TNI itu, membuat publik menganalisis ada upaya Istana untuk menyelundupkan sesuatu secara samar-samar dan itu ditafsirkan samar-samat pula oleh Pangdam Jaya.

Kesimpulan awal Rocky soal manuver Pangdam Jaya yaitu Pangdam Jaya merasa dapat izin diam-diam dari Istana untuk bermanuver. Selama tak mendapat teguran, Pangdam Jaya akan merasa melakukan fungsinya menjaga ketertiban dan keamanan.

Baca Juga: Candaan Rocky Gerung Soroti TNI Turunkan Baliho Habib Rizieq

“Mungkin Pangdam anggap Istana mengizinkan secara diam-diam test agreement untuk memberi sinyal ada yang terganggu keutuhan berbangsa. Tapi itu bukan dimaksudkan untuk minta Pangdam turunkan tentara. Pubik akan tagih kenapa Pangdam yang berinisiatif turunkan baliho,” ujar bekas dosen Universitas Indonesia itu.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI