Suara.com - CEO Twitter Jack Dorsey membela keputusan perusahaan untuk tidak menindak cuitan dari pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei terkait ancaman terhadap Israel pada Mei lalu.
Kicauan pemimpin Iran yang sempat dipermasalahkan termasuk yang diunggah pada Mei di mana Khamenei menggambarkan negara Israel sebagai "pertumbuhan mematikan dan kanker,".
"Kami akan mendukung dan membantu setiap bangsa atau kelompok di mana pun yang menentang dan melawan Rezim Zionis, dan kami tidak ragu untuk mengatakan ini," tulis Khamenei di Twitter saat itu.
Menurut Dorsey, cuitan Ayatollah Ali Khamenei tak ubahnya sebuah pidato yang disampaikan para pemimpin negara-negara di dunia. Bedanya, pidato ini disampaikan lewat daring atau online.
"Kami tidak menemukan bukti bahwa mereka melanggar persayaratan layanan kami karena kami menganggap itu 'pemeringatan daring'," beber Dorsey dikutip Politico, Kamis (29/10/2020).
"[Itu] merupakan bagian dari pidato para pemimpin dunia bersama negara-negara lain," tambahnya.
Dorsey mengungkapkan hal itu kepada Ketua Senat Perdagangan Amerika Serikat, Roger Wicker (R-Miss.), yang menanyakan tentang tweet dari Ayatollah Ali Khamenei.
![Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei. [AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/02/21/46539-pemimpin-agung-iran-ayatollah-ali-khamenei-afp.jpg)
Senat menanyakan perihal itu lantaran menganggap Twitter telah menerapkan standar ganda. Pasalnya, saat Khamenei menulis hal itu di Twitter, cuitan Presiden AS, Donald Trump, mendapat label hoaks.
Cuitan Donald Trump yang dimaksud adalah perihal pemungutan suara pemilihan presiden AS periode 2020-2024. Trump menyebut sistem pemungutan suara melalui surat bisa dimanipulasi.
Baca Juga: Best 5 Oto: Ayu Ting Ting Motoran, Maling Tesla Model 3 Menanggung Malu
Wicker juga mempertanyakan mengapa Twitter menunggu dua bulan untuk memberi label klaim tidak berdasar oleh pejabat China tentang asal-usul virus corona.