"Target kita adalah mempertahankan predikat WTP ini tahun depan. Caranya dengan melakukan inovasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, karena pandemi. Selain itu, kita harus membuka komunikasi dengan mitra kita yakni Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), BPKP, serta Kementerian ATR/BPN. Dengan begitu keraguan kita untuk mengeksekusi anggaran dapat terjawab," katanya.
Pengelolaan BMN tidak semudah mengelola barang-barang pribadi. Menurut Agust, Kementerian ATR/BPN mengelola 90 persen BMN dengan nilai kurang lebih 14 triliun rupiah. Dalam mengelola BMN, menurutnya, tidak hanya membeli dan merawat tetapi juga mengamankan.

"Dalam pengamanan BMN, kita melakukan pencatatan karena jumlah BMN tidak sedikit. Kita sudah didukung sumber daya manusia yang mumpuni untuk melakukan hal ini. Tetapi yang jelas, untuk melakukan pengelolaan BMN kita sudah lakukan dua hal yakni preventif, artinya mencatat BMN keluar ataupun masuk serta mitigasi, dengan melakukan inventaris ulang BMN yang saat ini kita kelola," jelasnya.
Penghargaan yang didapat ini merupakan kerja keras setiap jajaran Kementerian ATR/BPN. Agust berpesan agar penghargaan ini tidak membuat jajaran Kementerian ATR/BPN cepat puas.
"Kita harus mulai lagi dari nol. Ada tantangan besar di depan kita. Untuk Kanwil BPN Provinsi dan Kantah Kabupaten/Kota, saya minta agar tetap berkomunikasi dengan Kementerian ATR/BPN maupun dengan mitra daerah dalam kegiatan pelaksanaan anggaran serta pengelolaan BMN. Yang terpenting, pengelolaan keuangan harus tetap akuntabel," pungkas Agust.