Suara.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyesali banyaknya dokter yang wafat di ibu kota. Pasalnya nilai satu dokter di masa pandemi corona ini dianggap sangat berarti.
Bahkan, kata Anies, satu dokter yang wafat, artinya ada ratusan ribu warga yang kehilangan pelayanan kesehatan. Karena itu, menurutnya nasib dokter di saat ini perlu mendapatkan perhatian khusus.
“Kita perlu sadari, satu dokter meninggal artinya setara dengan ratusan ribu warga kehilangan pelayanan kesehatan,” ujar Anies dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis (10/9/2020).
Sejauh ini, kata Anies sudah ada 100 lebih dokter yang meninggal di Indonesia. Ia tak ingin agar jumlah ini bertambah lebih banyak lagi.
“Jangan sampai kita kehilangan lebih banyak lagi garda pertahanan terakhir kita dalam perlawanan terhadap wabah ini,” tuturnya.
Di tengah Corona yang makin merebak, Anies telah merekrut 1.174 tenaga kesehatan baru termasuk dokter. Mereka telah dikontrak sampai akhir tahun dan dijamin Anies akan mendapatkan perlindungan maksimal.
“Kami akan tambah terus, karena kami ingin memastikan bahwa bukan hanya tempat tidur dan ICU-nya yang ditambah, tapi tenaga medisnya juga. Dan kami pastikan ada perlindungan yang baik untuk mereka,” pungkasnya.
Rem Darurat
Sebelumnya, Anies Baswedan memutuskan untuk menarik rem darurat demi mencegah penularan corona. Anies memutuskan untuk kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang lebih ketat.
Baca Juga: Ferdinand: Andai Dari Dulu Bapak Tidak Sok Pintar Sendirian, DKI Tak Begini
Anies mengatakan, keputusan ini diambil setelah melalukan rapat dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DKI. Ia dan jajarannya memutuskan untuk menerapkan PSBB sebelum masa transisi atau pembatasan yang lebih ketat dari sekarang.