Suara.com - Otoritas satwa liar Zimbabwe sedang menyelidiki kematian 12 gajah pekan lalu di sebuah hutan di utara Taman Nasional Hwange yang terkenal di negara tersebut.
Menyadur Barrons, Senin (31/8/2020), 11 bangkai gajah ditemukan pada Jumat sementara satu lainnya pada Sabtu di hutan Pandamasuwe yang terletak di antara kota Hwange dan Air Terjun Victoria.
Hasil penyelidikan sementara mengungkapkan gajah-gajah itu tidak mati akibat ulah manusia, baik perburuan liar maupun diracun.
Temuan bahwa gading gajah masih utuh, serta burung-burung pemakan bangkai tak mati saat memakan dagingnya menggiring otoritas terkait untuk mencari penyebab lain dari kematian tersebut.
"Kami telah mengesampingkan hal-hal seperti perburuan karena gadingnya masih utuh," kata juru bicara taman dan satwa liar Tinashe Farawo.
"Kami juga mengesampingkan keracunan sianida karena tidak ada hewan lain yang terpengaruh termasuk burung nasar yang memakan mereka."
Gajah-gajah yang mati kali ini berusia sekitar lima hingga enam tahun yang mana itu merupakan usia dewasa muda dari spesies hewan tersebut. Sementara sisa gajah mati yang ditemukan kira-kira berusia 18 bulan.
Menurut Farawo, indikasi awal menyimpulkan bahwa hewan terbesar di darat ini mati karena terkena bakteri lantaran Taman Nasional Hwange over populasi.
Dia mengatakan Hwange, taman dengan luas 14.600 kilometer persegi, memiliki kapasitas maksimum normal 15.000 gajah, tetapi saat ini menampung antara 45.000 dan 53.000.
Baca Juga: 150 Ekor Gajah Botswana Ditemukan Mati dalam Keadaan Misterius
"Hewan kelebihan populasi sehingga vegetasi pilihan mereka tidak ada lagi, jadi mereka akhirnya memakan apa saja termasuk beberapa tanaman beracun," kata Farawo.