Suara.com - Ribuan warga Myanmar menggelar unjuk rasa atas kematian seorang wanita dari kelompok Karen yang meninggal dunia usai dirampok oleh dua tentara.
Menyadur Barrons, Naw Nu Naw dirampok perhiasannya dan ditembak hingga tewas oleh dia tentara di kota Dwe Lo pada 16 Juli lalu.
Pengadilan militer negara itu telah menyatakan dua tentara ini bersalah. Adapun kini keduanya telah ditahan.
Wakil direktur Human Rights Watch Asia Phill Robertson menyerikan agar kedua prajurit itu diserahkan ke pengadilan sipil, mengecam kurangnya transparansi dalam pengadilan militer.
"Kemungkinan Naw Mu Naw akan berakhir sebagai kasus lain yang velum terselesaikan dalam pola kebrutalan militer Burma," kata Phill.
![Ilustrasi seorang perempuan memegang pistol. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2018/02/02/98568-ilustrasi-penembakan.jpg)
Kasus ini kemudian memicu gelombang protes selama dua pekan terakhir, puncaknya pada Selasa (28/7) lalu.
Diperkirakan sekitar 5.000 pengunjuk rasa, turun ke jalanana ibu kota negara bagian Hpa-an, dengan berbalut pakaian tradisional dan mengibarkan bendera kelompo Karen.
"Kami menuntut militer mundur karena kami khawatir kami juga akan ditembak dan dibunuh, ujar seorang demonstran, Khwe Ni.
Pemberonyak Uni Nasional Karen (KNU) menandatangani gencatan senjata pada 2012 silam dengan militer setelah lebih dari 60 tahun berperang.
Baca Juga: Dua Hari Jelang Poligami, Pria Ini Disiksa hingga Tewas oleh Istri Tua
Kerusuhan berkobar lagi di negara bagian usai Karen menuduh pihak miliyer membangun jalan dan infrastruktur lainnya yang melanggar batas wilayah mereka.