![Sejumlah pejabat China, mengenakan masker wajah menghadiri sesi pembukaan Kongres Rakyat Nasional (NPC) setelah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, Jumat (22/5/2020).[AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/05/28/57316-kongres-rakyat-nasional-china-npc.jpg)
Li Zhanshu, pemimpin ketiga paling senior Partai Komunis China yang berkuasa dan Ketua Parlemen China, mengatakan pada acara yang sama bahwa cara-cara nondamai adalah pilihan terakhir.
"Selama ada sedikit peluang resolusi damai, kami akan melakukan upaya seratus kali," kata Li.
"Kami memperingatkan pasukan prokemerdekaan dan separatis Taiwan dengan tegas, jalan kemerdekaan Taiwan mengarah pada jalan buntu; setiap tantangan terhadap undang-undang ini akan dihukum berat," ia menambahkan.
Taiwan tidak menunjukkan minat untuk dijalankan oleh China yang otokratis. Mereka mengecam latihan militer China berulang-ulang di dekat pulau itu dan menolak tawaran China untuk model "satu negara, dua sistem" dengan tingkat otonomi yang tinggi.
Baca Juga: 29 Mei 1991, Kisah Klub Yugoslavia Rengkuh Trofi Eropa Pertama dan Terakhir
China sangat curiga terhadap pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen, yang dituduh sebagai kelompok separatis yang menyatakan kemerdekaan resmi. Tsai mengatakan Taiwan sudah menjadi negara merdeka yang disebut Republik China, nama resminya.
Tsai dan Partai Progresif Demokratik-nya yang memenangi pemilihan presiden dan parlemen secara telak pada Januari, berjanji untuk melawan Beijing.
Suasana di Taiwan terhadap China memburuk sejak parlemen China mengesahkan undang-undang keamanan nasional baru pada Hong Kong, yang diperintah China, pada Kamis (28/5/2020).
Tidak ada reaksi langsung dari otoritas Taiwan terhadap komentar dari Beijing tersebut.
Namun, seorang pejabat senior Taiwan yang mengetahui perencanaan keamanan pulau itu mengatakan kepada Reuters, bahwa Beijing memanfaatkan kesempatan peringatan undang-undang itu untuk "mengintimidasi Taiwan" dan "menantang status quo di Selat Taiwan." (Antara)
Baca Juga: Trump Keluarkan Dekrit, Twitter Beri Balasan Telak