Suara.com - Oleh: Wayan Suparta, PhD
Dosen Informatika Lingkungan, Universitas Pembangunan Jaya, Kota Tangerang Selatan, Banten
Dua minggu terakhir ini seolah-olah sebagian daerah Indonesia diserang panas sangat ekstrem. Di berbagai kota mengalami kenaikan suhu yang sangat drastis seperti pantauan BMKG di Palembang yang mencapai 35 celcius, di Solo mencapai 38 celcius, di Makassar mencapai 39 celcius, bahkan di Jabodetabek. Khususnya daerah Ciputat, Tangerang Selatan, suhu telah mencapai 39,6 celcius. Semarang juga mencatatkan bacaan suhu yang sama dengan Ciputat. Tidak lebih aneh lagi jika terjadi suhu ekstrem di Yogyakarta biasanya dikaitkan dengan aktivitas Gunung Merapi.
Terjadinya suhu ekstrem di sebagian wilayah Indonesia bukanlah fenomena baru apalagi disebut sebagai gelombang panas. Kenaikan suhu yang ekstrem ini adalah fenomena biasa yang juga dialami oleh negara lain seperti Australia bagian Selatan dimana suhu mencapai 41 celcius. Bahkan ada beberapa daerah di sebuah negara yang suhunya memang selalu panas karena keadaan alamnya seperti California, Amerika Serikat yang mencapai 56,7 celcius dan sering disebut sebagai lembah kematian, dan suhu terpanas 50 celcius juga terjadi di Gunung Flaming, China.
Panas menyengat adalah biasa untuk di negara-negara arab seperti Gurun Sahara. Kenaikan suhu setiap tahunnya ini sering dikatakan sebagai akibat dari perubahan iklim global (global warming). Mengapa Indonesia dilanda suhu ekstrem, atau tepatnya mengalami kenaikan suhu setiap tahunnya? Apakah Indonesia mengalami krisis iklim?
Secara umum, kelebihan panas yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tertentu disebabkan intensitas radiasi matahari yang sangat tinggi. Intensitas matahari tinggi ini biasanya terjadi pada daerah-daerah yang dilalui garis ekuator (khatulistiwa). Wilayah atau negara yang dilalui atau berdekatan dengan garis kathulistiwa menerima radiasi matahari yang tinggi sepanjang tahun akibat pergerakan semu matahari. Suhu di suatu wilayah yang melebihi 40C dikhawatirkan dapat memicu efek gelombang panas (heat wave). Namun panasnya atmosfer di wilayah Indonesia akibat pergerakan udara kering sehingga menghambat pertumbuhan awan yang biasanya berfungsi untuk menghalangi panas terik matahari.
Salah satu udara kering tersebut adalah gas rumah kaca yang menyebabkan panas dari matahari yang diterima oleh bumi tidak dipantulkan kembali ke angkasa (terperangkap di atmosfer bumi). Selain itu, panas terik juga terjadi akibat anomali suhu dingin di beberapa wilayah perairan Indonesia. Fenomena ini menyebabkan pertumbuhan awan hujan semakin sulit terbentuk seperti di wilayah Sulawesi, Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara akibat angin kering yang kencang (fohn). Aktifnya angin Monsun adalah salah satu penyebab terlambat datangnya awal musim hujan.
Pemanasan global biasanya juga dikaitkan dengan mencairnya es di kutub utara (Artik) dan Kutub Selatan (Antartika). Berdasarkan kalender meteorologi, bulan Oktober di Kutub utara telah mengalami pergeseran musim dari musim gugur (autumn) ke musim dingin (winter), sementara di Kutub Selatan bergeser dari musim semi (spring) ke musim panas (summer). Pemanasan global ini telah terjadi dan bahkan panel perubahan iklim dari PBB (IPCC) memberi peringatan dini bahwa pada tahun 2030 adalah batas akhir untuk mempertahankan kenaikan suhu dunia di bawah 2 celcius (kesepakatan Paris).
Ini disebabkan es di kutub akan selalu mencair. Oleh karena itu setiap negara harus memetakan konsep dan bertindak melalui regulasi untuk menyelamatkan negara atau daerah mereka supaya terhindar dari kehilangan atau tenggelam dari permukaan bumi, atau menghindari pemanasan global yang membahayakan.
Baca Juga: Ini Kriteria Bahan Katun yang Cocok Untuk Iklim Indonesia
Selain pemanasan global, fakta yang paling menarik adalah panas terik atau anomali suhu justru terjadi di daerah-daerah perkotaan. Fakta ini boleh dikatakan sebagai pemanasan lokal (local warming). Penyebab pemanasan lokal ini yang paling dasar adalah akibat aktivitas industri seperti peningkatan emisi karbon dioksida melalui cerobong asap pabrik dan kendaraan bermotor.
Penyebab kedua adalah dimana sebagian wilayah pertanian yang kaya akan pepohonan dan tumbuhan hijau penyerap gas rumah kaca telah dialihfungsikan menjadi perumahan, ruko atau kota-kota baru. Berhektar-hektar kawasan hijau telah beralih fungsi dimana permintaan masyarakat akan perumahan jumlahnya semakin meningkat di setiap tahunnya. Ini akibat arus urbanisasi yang masif ditambah faktor ekonomi masyarakat yang membaik membawa dampak kepada masalah lingkungan perkotaan.
Jika ini dibiarkan, krisis iklim akan menghantui Indonesia. Sebagai contoh meningkatnya suhu panas di Ciputat adalah akibat kawasan pemukiman yang semakin sempit, aktivitas pembangunan yang tinggi, kawasan lahan hijau yang semakin berkurang, kepadatan penduduk, dan kemacetan. Banyaknya lahan-lahan yang berubah menjadi jalan beraspal merupakan urat nadi perputaran roda perekonomian. Namun jalan beraspal merupakan media yang sangat baik untuk pemantulan sinar matahari. Sinar matahari dipantulkan kembali ke Bumi akibat sebagian besar ditangkap oleh luapan gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Aktivitas manusia yang membuang gas ke atmosfer terlalu banyak dan tidak sebanding dengan kemampuan lingkungan dalam menyerap partike-partikel yang ditebarkan tersebut. Masifnya pembangunan perumahan memunculkan fenomena clamped area di mana beberapa kawasan di tengah kota terisolasi (terjepit) akibat salah satu regulasi pembangunan yang belum matang. Namun, hal yang paling krusial untuk segera dibenahi adalah mentalitas manusianya.
Indonesia adalah negara berkah karena berada di khatulistiwa dengan penerimaan panas matahari yang cukup dan keseimbangan waktu antara siang dan malam. Meningkatnya pemanasan suhu udara di suatu wilayah adalah hal yang biasa sebagai akibat faktor alam (matahari) dan aktivitas manusia. Fenomena ini akan selalu berulang setiap tahun dengan intensitas berbeda, misalnya salah satu akibat pemanasan lokal adalah kebakaran hutan dimana asap-asap dapat menyebar ke mana-mana dan menganggu kualitas udara baik untuk kesehatan maupun transportasi darat dan udara. Kepekatan asap di udara menjadi bercampur dengan udara yang berkerapatan sama (homogen) dan ini dapat menyebabkan turbulensi.
Dengan kata lain, suhu panas dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti dehidrasi, sengatan kulit akibat sinar UV yang tinggi, diare, iritasi pernafasan, kegelisahan mental, dan lain-lain. Upaya mengurangi gas rumah kaca di atmosfer secara mudah dapat dilakukan antara lain dengan penanaman sejuta pohon kembali di titik-titik anomali panas, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, melakukan langkah-langkah inovasi seperti mengolah sampah organik, mengurangi penggunaan kertas (paperless) dan plastik, membuat bangunan atau gedung tinggi yang dilengkapi dengan tanaman hijau atau pohon-pohon, dan sebagainya.
Kemarau yang panjang atau datangnya musim hujan yang terlambat ini sebagai akibat perubahan iklim skala lokal dan menyebar menjadi skala global. Faktor perubahan iklim ini tidak dapat dibendung dan terus mengalami kenaikan. Justru itu, kerjasama antar pemerintah dan antar negara sangat diperlukan untuk membendung krisis iklim. Musim akan berganti secara periodik, dan pada awal November 2019, sebagian wilayah Indonesia diprakirakan oleh BMKG sudah memasuki musim penghujan, dan jumlah hujan akan meningkat hingga bulan Januari atau Februari 2020.
Secara geografis, Indonesia tidak akan mengalami krisis iklim seperti gelombang panas, namun secara internal efek sebaran gelombang panas akibat perpindahan energi seperti pergerakan angin dan akibat ulah atau aktivitas yang tidak memikirkan dampak lingkungan, krisis iklim adalah di ambang mata.