ANALISIS: Indonesia Dilanda Suhu Panas, Krisis Iklim?

Rabu, 30 Oktober 2019 | 10:30 WIB
ANALISIS: Indonesia Dilanda Suhu Panas, Krisis Iklim?
Warga menghalau sinar matahari dengan tangannya saat melakukan aktivitas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (22/10). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Penyebab kedua adalah dimana sebagian wilayah pertanian yang kaya akan pepohonan dan tumbuhan hijau penyerap gas rumah kaca telah dialihfungsikan menjadi perumahan, ruko atau kota-kota baru. Berhektar-hektar kawasan hijau telah beralih fungsi dimana permintaan masyarakat akan perumahan jumlahnya semakin meningkat di setiap tahunnya. Ini akibat arus urbanisasi yang masif ditambah faktor ekonomi masyarakat yang membaik membawa dampak kepada masalah lingkungan perkotaan.

Jika ini dibiarkan, krisis iklim akan menghantui Indonesia. Sebagai contoh meningkatnya suhu panas di Ciputat adalah akibat kawasan pemukiman yang semakin sempit, aktivitas pembangunan yang tinggi, kawasan lahan hijau yang semakin berkurang, kepadatan penduduk, dan kemacetan. Banyaknya lahan-lahan yang berubah menjadi jalan beraspal merupakan urat nadi perputaran roda perekonomian. Namun jalan beraspal merupakan media yang sangat baik untuk pemantulan sinar matahari. Sinar matahari dipantulkan kembali ke Bumi akibat sebagian besar ditangkap oleh luapan gas-gas rumah kaca di atmosfer.

Aktivitas manusia yang membuang gas ke atmosfer terlalu banyak dan tidak sebanding dengan kemampuan lingkungan dalam menyerap partike-partikel yang ditebarkan tersebut. Masifnya pembangunan perumahan memunculkan fenomena clamped area di mana beberapa kawasan di tengah kota terisolasi (terjepit) akibat salah satu regulasi pembangunan yang belum matang. Namun, hal yang paling krusial untuk segera dibenahi adalah mentalitas manusianya.

Indonesia adalah negara berkah karena berada di khatulistiwa dengan penerimaan panas matahari yang cukup dan keseimbangan waktu antara siang dan malam. Meningkatnya pemanasan suhu udara di suatu wilayah adalah hal yang biasa sebagai akibat faktor alam (matahari) dan aktivitas manusia. Fenomena ini akan selalu berulang setiap tahun dengan intensitas berbeda, misalnya salah satu akibat pemanasan lokal adalah kebakaran hutan dimana asap-asap dapat menyebar ke mana-mana dan menganggu kualitas udara baik untuk kesehatan maupun transportasi darat dan udara. Kepekatan asap di udara menjadi bercampur dengan udara yang berkerapatan sama (homogen) dan ini dapat menyebabkan turbulensi.

Dengan kata lain, suhu panas dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti dehidrasi, sengatan kulit akibat sinar UV yang tinggi, diare, iritasi pernafasan, kegelisahan mental, dan lain-lain. Upaya mengurangi gas rumah kaca di atmosfer secara mudah dapat dilakukan antara lain dengan penanaman sejuta pohon kembali di titik-titik anomali panas, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, melakukan langkah-langkah inovasi seperti mengolah sampah organik, mengurangi penggunaan kertas (paperless) dan plastik, membuat bangunan atau gedung tinggi yang dilengkapi dengan tanaman hijau atau pohon-pohon, dan sebagainya.

Kemarau yang panjang atau datangnya musim hujan yang terlambat ini sebagai akibat perubahan iklim skala lokal dan menyebar menjadi skala global. Faktor perubahan iklim ini tidak dapat dibendung dan terus mengalami kenaikan. Justru itu, kerjasama antar pemerintah dan antar negara sangat diperlukan untuk membendung krisis iklim. Musim akan berganti secara periodik, dan pada awal November 2019, sebagian wilayah Indonesia diprakirakan oleh BMKG sudah memasuki musim penghujan, dan jumlah hujan akan meningkat hingga bulan Januari atau Februari 2020.

Secara geografis, Indonesia tidak akan mengalami krisis iklim seperti gelombang panas, namun secara internal efek sebaran gelombang panas akibat perpindahan energi seperti pergerakan angin dan akibat ulah atau aktivitas yang tidak memikirkan dampak lingkungan, krisis iklim adalah di ambang mata.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI