Menurut Narto, keluarga tidak diperkenankan melakukan doa-doa sejak pemberangkatan jenazah hingga proses pemakaman di TPU selesai.
“Oke tidak masalah. Keluarga juga sepakati itu. Proses pemakaman berjalan, sampai akhirnya saya mendengar kalau saat salib ditancapkan ke pusaran, ada warga yang memotong salib dengan cara digergaji,” katanya.
Salib yang dipotong tersebut tetap ditancapkan, termasuk bagian atasnya sudah terpotong. Praktis, hanya kayu berbentuk huruf “T” saja yang tertancap di pusara Slamet.
Namun, ada keanehan muncul dalam insiden tersebut. Sehari setelah peristiwa itu, Selasa hari ini, terdapat surat pernyataan bermaterai yang ditandatangani pihak keluarga.
Baca Juga: Top 3: Kepergok Bawa Kondom dan Pelumas, Rumah Artis Dilempari Batu
Surat tersebut ditandatangani oleh Maria Sutris Winarni selaku istri dari Albertus Slamet Sugiardi, yang di dalamnya diketahui langsung oleh Tokoh Masyarakat bernama Bedjo Mulyono, kemudian dari pihak Ketua RT 53, Soleh Rahmad Hidayat dan Ketua RW 13, Slamet Riyadi.
Surat yang di dapat suara.com tertulis jelas kalimat:
“Menyatakan bahwa pemotongan papan nama Albertus Slamet Sugiardi yang ada di makam Jambon, untuk menghilangkan simbol kristiani atas saran pengurus Makam, tokoh masyarakat dan pengurus kampung. Saya dapat menerima dengan ikhlas dan tanpa permasalahan lagi.”
Slamet, Ketua RW 13, mengakui surat itu dibuat pada hari Selasa. Ia menolak hal itu sebagai paksaan. Menurutnya hal itu bagian dari kesepakatan bersama.
“Pernyataannya itu hari ini, kemarin kan secara lisan,’’ kata Slamet saat ditemui di rumahnya.
Baca Juga: Bayar PSK Pakai Uang yang Dicetak di Warnet, Haryadi Dibekuk
Ia enggan menjelaskan lebih lanjut alasan dibuatnya surat tersebut pada hari ini. Ia hanya menyatakan semua persoalan sudah disepakati bersama dengan pihak keluarga.