“Saya ditanya, apakah suami merokok? Saya jawab, iya. Ternyata saya sudah diracuni asap rokok.”
Sejak itu, Mardiah rutin menjalani berbagai macam terapi anti-nikotin. Sementara suaminya tetap merokok, sampai harus bolak balik rumah sakit 2 tahun sebelum meninggal di tahun 2007.
Usahanya saat itu gulung tikar karena kehabisan modal. Keuntungan dari beberapa usahanya terpakai untuk membayar rumah sakit dan pengobatan. Di tambah, Mardiah tidak bisa bekerja terlampau lama karena tak kuat bernafas panjang dan mudah lelah. Dia memutuskan menjual rumah warisan keluarga di Cilandak. Sebagian uang itu untuk modal usaha baru dan biaya pengobatan suami pertamanya sebelum meninggal.
“Sekarang sudah hampir 2 bulan nggak minum obat dan ke dokter, nggak ada uang. Paling saya meminum ramuan buatan sendiri biar nafasnya plong. Ramuan itu campuran babakan jamblang, daun suji, daun ciplukan, dan daun diabet. Semua dimasak pakai air, diminum. Selain itu banyak jalan saja biar segar,” paparnya.
Kisah serupa juga ada di 40 kilometer ke arah utara dari Parung, Bogor. Di Cipinang Besar, Jakarta Timur ada Pertiwi Ayu. Bedanya, Ayu luput dari dampak buruk rokok di rumah tangga.
Ibu 3 anak ini sempat hidup kesulitan saat suaminya, Joko Sundoko merokok sampai 6 bungkus sehari. Koko, sapaan suami Ayu, menghabiskan gajinya Rp1,8 juta saban bulan. Hanya Rp1,7 juta dia sisakan untuk biaya makan dan biaya rumah tangga lainnya. Sementara Koko yang merupakan petugas keamanan itu merupakan tulang punggung keluarga.
Tujuh tahun lalu hal tersulit dalam hidup Ayu dan Koko setelah melahirkan putra kembar, Danang Djoyo Romansasi dan Arjuno Romansasi. Biaya hidup mereka membengkak setelah dua hatinya lahir. Sisa gaji Koko tidak cukup untuk makan sehari-hari dan membayar berbagai tagihan tetap seperti listrik dan sewa kontrakan.
“Berasa banget. Apalagi kalau nggak ada uang dan bulan lagi susah. Sering kami hadapi itu. Gajinya dulu Rp1 juta sebulan, dan rokok lagi berat-beratnya. Sekarang gaji suami ikuti UMR (upah minimum regional),” kata Ayu.
Baca Juga: Berhenti Merokok, Lelaki Ini Mampu Beli Motor Baru untuk Mudik
Banyak keinginan yang mau tak mau ditanggalkan. Sejak awal menikah tahun 2006, keluarganya tidak terbeli TV sebagai hiburan sehari-hari.