“Pintar, sebelum menyerobot tanah main api dulu. Karena dulu tidak ada aturan soal api. Setelah habis lahan masyarakat terbakar, baru dia masuk,” katanya curiga.
Api dan kebakaran lahan, jelas Misradi, terus saja berlangsung dan paling parah terjadi pada 2015 ini.
“Setiap tahun selalu muncul api,”sesalnya.
Kalau Misradi di Sei Ahas lahannya direbut dan ludes terbakar menjelang pembukaan kebun sawit, hal yang mirip juga terjadi di Desa Mantangai Hulu, Kapuas.
Kebun karet seluas 1 hektar yang terletak persis di belakang rumah Norhadi Karben, warga Dayak Ngaju di Mantangai Hulu, sebagian rontok dan gosong. Bukan cuma kebun milik Norhadi, tapi sederet kebun yang melingkari desa sebagian masih berasap saat suara.com diajak berkeliling pada Oktober 2015 lalu.
Semakin jauh memasuki kebun, bau asap menusuk hidung. Tampak sisa bakaran masih mengepul. Pohon karet tampak tumbang sebagian karena terbakar api.
Pohon karet yang selamat hanya yang tumbuh dekat rumah kayu milik Norhadi.
“Pokoknya sejak ada PLG itu dan PT KLM (Kalimantan Lestari Mandiri) yang akhirnya memang terjadi setiap tahun terbakar, hanya soal parah atau tidak saja terbakarnya,” kata Noorhadi.
Kebun sawit PT. KLM seluas 5.101 hektar yang disebut Noorhadi, juga sama berdiri di atas lahan bekas proyek sejuta hektar Pengembangan Lahan Gambut (PLG), Kalimantan Tengah.