Perang di Kobane, ISIS Dibantu Ratusan Pengkhianat

Ruben Setiawan Suara.Com
Kamis, 06 November 2014 | 15:25 WIB
Perang di Kobane, ISIS Dibantu Ratusan Pengkhianat
Abu Khattab Al-Kurdi, seorang Kurdi yang diduga membelot dan membantu ISIS. (Dailymail)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang berperang di Kobane, Suriah ternyata mendapat bantuan tenaga dari ratusan warga Kurdi. Alih-alih membantu pasukan Kurdi melawan ISIS, ratusan orang tersebut justru memihak kelompok radikal itu untuk menguasai kota mereka sendiri.

Lansiran Daily Mail, para pembelot Kurdi ini membantu memecahkan sandi dalam bahasa Kurdi dan memberikan informasi tentang keadaan medan tempur yang baru bagi ISIS. Salah satu pembelot tersebut bahkan menjadi seorang komandan tempur ISIS. Orang tersebut dikenal dengan nama Abu Khattab al-Kurdi.

Sebagian besar petempur, termasuk al-Kurdi, diyakini berasal dari kota Halabja, Irak. Namun, tak sedikit pula yang berasal dari Kota Kobane, Afrin, dan Jazeera,

Sebuah situs ISIS baru-baru ini merilis foto al-Kurdi. Lelaki berjenggot tersebut tampak dalam pakaian tradisional Kurdi dan berdiri di depan beberapa mayat tentara Kurdi. Seorang pejabat Irak di Baghdad mengatakan, al-Kurdi merupakan bekas anggota Ansar al-Islam, kelompok militan Sunni yang memiliki hubungan dengan seorang pemimpin Al-Qaeda, Abu Musab al-Zarqawi.

Al-Kurdi sempat bergabung selama beberapa tahun dengan kelompok tersebut sampai akhirnya bergabung dengan ISIS. Sang pejabat mengatakan bahwa al-Kurdi adalah salah satu buronan pemerintah. Menurut dia, al-Kurdi tahu benar kondisi pegunungan di Kobane.

Sementara itu, laporan dari dalam kota Kobane menyebutkan, pasukan ISIS telah mulai memenggal warga sipil di wilayah yang mereka kuasai. Ini berarti bahwa ratusan warga Kurdi ikut membantai kaum mereka sendiri.

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyampaikan kekhawatirannya terhadap ISIS. PBB memperingatkan bahaya yang mungkin timbul jika ISIS berhasil menguasai Kobane sepenuhnya. Mereka khawatir, pembantaian besar-besaran yang terjadi di Sinjar dan Mosul, akan kembali terulang di Kobane. (Daily mail)

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI