Anak-anak Paling Sedih di Dunia Ada di Negara Ini

Ruben Setiawan Suara.Com
Selasa, 04 November 2014 | 16:45 WIB
Anak-anak Paling Sedih di Dunia Ada di Negara Ini
Ilustrasi bocah/anak perempuan sedih. (Shutterstock)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Sebuah studi terbaru mengungkap, anak-anak yang tinggal di Korea Selatan memiliki tingkat kebahagiaan paling rendah di antara anak-anak dari negara-negara berkembang lainnya. Menurut studi tersebut, tekanan dan tuntutan pelajaran dituding menjadi penyebabnya.

Menurut Kementerian Kesehatan Korea Selatan, negara tersebut berada di urutan terbawah di antara 30 negara yang menjadi target studi. Di atas Korea Selatan ada Rumania dan Polandia.

"Faktor paling relevan dari kepuasan hidup anak-anak adalah tekanan akademis, diikuti kekerasan di sekolah, kecanduan internet, kelalaian, dan kekerasan cyber," sebut hasil survei kementerian yang dilakukan terhadap lebih dari 4.000 rumah tangga yang memiliki anak berusia kurang dari 18 tahun.

Menurut kepada Bank Dunia, Jom Yong Kim, mengatakan bahwa sistem pendidikan menjadi beban berat bagi anak-anal. Anak-anak dipacu untuk berkompetisi dan belajar dalam waktu yang panjang.

Hasil survei di Korea Selatan dibandingkan dengan hasil dari 27 negara lain yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). OECD sendiri merupakan organisasi yang memiliki 34 negara anggota, ditambah Rumania, Latvia, dan Lithuania.

Survei ini merupakan yang pertama diselenggarakan pemerintah Korea Selatan. Survei diadakan jelang pelaksanaan tes masuk perguruan tinggi yang diperkirakan bakal diikuti oleh sekitar 600 ribu siswa.

Hasil tersebut tidak terlalu berlebihan. Pasalnya, kerap terdengar kabar soal pelajar yang memutuskan bunuh diri akibat tertekan lantaran tidak bisa mencapai prestasi yang baik di sekolah. Lebih dari separuh kasus remaja 15 hingga 19 tahun yang bunuh diri, dipicu oleh hal itu.

Para orang tua di Korea Selatan terkenal suka memaksa anak-anaknya belajar di sekolah hingga larut. Mereka juga sudah melatih anak-anaknya dengan kemampuan Bahasa Inggris sejak masih belajar di taman kanak-kanak. (Reuters)

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI