Suara.com - Kedua tim sukses pasangan capres cawapres berlomba-lomba menyampaikan rencana kebijakan energi untuk masyrakat jika nanti terpilih memimpin Indonesia dalam laga Pilpres 9 Juli 2014. Dua pasangan capres cawapres ini berjanji tidak fokus pada menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (31/5/2014), tim sukses Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK), Darmawan Prasojo menyampaikan, jagoannya memilih upaya konversi BBM ke gas untuk mengakali harga BBM yang semakin mahal.
"Proses konversi bbm ke gas akan dilakukan, termasuk menggunakan sumber baru sebagai energi baru terbarukan dan segala rupa akan kita dorong untuk bisa memperbaiki sistem energi di Indonesia," papar Darmawan.
Dia juga menyampaikan, Indonesia mengalami kerugian mencapai Rp12 triliun per tahun karena memilih menggunakan energi tak terbarukan BMM.
Cadangan gas yang masih melimpah di Indonesia mampu menggantikan konsumsi BBM dengan alasan lainnya yakni harga gas lebih murah.
Sementara tim sukses pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebelumnya menjanjikan tidak akan menaikkan harga BBM selama lima tahun ke depan.
Menurut Tim Sukses Prabowo-Hatta Bidang Kebijakan dan Program, Drajad Wibowo mengungkapkan, Prabowo-Hatta memilih memangkas semua subsidi orang kaya yang menggunakan BBM.
"Saya rasa sudah jelas Prabowo-Hatta enggak naikkan harga BBM untuk orang miskin. Prabowo-Hatta mengurangi BBM untuk orang kaya, karena kita menyadari masalah BBM ini sangat krusial dan masih jauh dari standar kelayakan. Ini bukan politik, tapi untuk posisi ekonomi kerakyatan," tegas Drajad.
Menurutnya, mekanisme bea cukai dan pajak untuk orang kaya, agenda ekonomi kerakyatan akan dinilai lebih berjalan. Selain itu, subsidi akan dirasakan langsung oleh rakyat miskin.
"Jalan tengah dengan menarik subsidi untuk orang kaya. Subsidi akan tetap ada, tapi kenaikan harga BBM akan dirasakan orang kaya," lanjut Drajad.