Dear Pawrents, Kapan Kucing Bisa Vaksin Setelah Melahirkan? Jangan sampai Anabul Sakit

Rabu, 09 April 2025 | 18:23 WIB
Dear Pawrents, Kapan Kucing Bisa Vaksin Setelah Melahirkan? Jangan sampai Anabul Sakit
Ilustrasi kucing (freepik/lev-studio-x)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Vaksinasi adalah salah satu cara untuk memastikan kucing peliharaan agar tetap sehat dan terlindungi dari paparan penyakit-penyakit tertentu yang disebabkan oleh infeksi virus.

Untuk informasi, vaksinasi adalah prosedur memasukkan virus yang telah dilemahkan atau bagian tidak berbahaya dari virus ke aliran darah kucing untuk memicu terbentuknya imunitas atau kekebalan tubuh.

Virus yang telah dilemahkan dalam vaksin ini tidak akan menyebabkan penyakit pada kucing, tetapi tubuh akan mengenali bagian virus sehingga dapat membentuk antibodi yang kelak bisa dipakai untuk melawan jika benar-benar terinfeksi virus tersebut.

ilustrasi kucing (freepik)
ilustrasi kucing (freepik)

Dengan demikian, sudah jelas bahwa vaksinasi adalah tahap penting yang harus dilakukan pawrents kepada anak-anak bulu alias anabul peliharaannya.

Namun terdapat beberapa kondisi yang membuat kucing tidak seharusnya divaksinasi, salah satunya saat hamil. Kucing seharusnya divaksin sebelum hamil untuk mencegah penyakit, cacat pada bayi, sampai risiko kematian janin karena infeksi penyakit.

Lalu jika kucing sudah terlanjur hamil, kapan sebaiknya memvaksinasi kucing setelah melahirkan?

Mengutip laman Pet MD, sangat direkomendasikan untuk menunggu sampai kucing melahirkan sebelum divaksinasi.

Umumnya, vaksin tidak seharusnya diaplikasikan kepada hewan yang sedang bunting karena adanya risiko yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Namun ada beberapa jenis vaksin yang bisa diberikan kepada kucing hamil, tentu saja sesuai persetujuan dokter.

Karena itulah, diterangkan di laman Pet Doctors Flagstaff, sebaiknya menunggu dahulu sampai kucing melahirkan dan selesai menyusui anaknya baru divaksinasi.

Baca Juga: Mudik Aman dan Tenang: Ini 5 Penitipan Kucing Terpercaya di Jakarta

Ilustrasi kucing sebagai hewan peliharaan (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi anak kucing. (Pexels/Pixabay)

Menurut situs Pet MD, anak kucing umumnya mulai melakukan transisi dari meminum susu induknya ke makanan padat di usia 4 minggu. Biasanya anak kucing sudah benar-benar bertransisi ke makanan padat (baik dry food maupun wet food) di usia 8 minggu.

Di fase inilah, induk kucing yang baru hamil dan melahirkan telah aman untuk divaksin. Namun di sejumlah sumber lain, disebutkan bahwa kucing bisa divaksin sekitar 1-2 minggu setelah melahirkan.

Sedangkan untuk anak kucing yang baru dilahirkan juga disarankan untuk segera divaksinasi, yaitu di usia 6-8 minggu ke atas. Untuk vaksin yang memerlukan lebih dari satu dosis, maka bisa dilakukan pengulangan sekitar 3-4 minggu setelahnya.

Itu tadi penjelasan mengenai kapan waktu terbaik untuk memvaksinasi kucing setelah melahirkan. Tentu sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ke dokter untuk menentukan kapan waktu vaksinasi terbaik.

Penyakit-penyakit yang Dicegah Lewat Vaksin Kucing

Suasana di Arnamir Cat Hotel, Jakarta (31/3/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Suasana di Arnamir Cat Hotel, Jakarta (31/3/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Vaksin harus diberikan kepada kucing, tak peduli apa ras, jenis kelamin, sampai ukurannya. Baik kucing indoor alias yang lebih banyak di dalam ruangan maupun kucing outdoor tetap harus divaksin.

Laman Pet Doctors Flagstaff membagi vaksin kucing dalam dua kelompok, yaitu vaksin inti (core) dan vaksin non-inti (non-core).

Vaksin inti dikenal juga dengan vaksin F3, karena mencakup 3 penyakit berikut:

  • Feline Pan Leukopenia: disebabkan oleh feline parvovirus, di mana berisiko sangat tinggi jika menginfeksi anak kucing, kucing tua, dan kucing sakit.
  • Feline Calicivirus: virus yang menginfeksi sistem pernapasan dan rongga mulut, sangat mudah menyebar tetapi biasanya tidak sampai menyebabkan kucing mati.
  • Feline Herpesvirus (Rhinotracheitis): virus ini biasanya tidak mematikan tetapi dapat menimbulkan cacat permanen jika menginfeksi anak kucing, dengan gejala berupa inflamasi dan infeksi pada mata, sinus, serta jalur pernapasan.
ilustrasi kucing (freepik.com)
Ilustrasi kucing (freepik.com)

Selain itu, ada pula vaksin rabies yang di beberapa wilayah wajib diberikan kepada kucing.

Sedangkan beberapa yang termasuk vaksin non-inti (non-core) adalah:

  • Feline Leukemia Virus
  • Feline Immunodeficiency Virus, di mana kucing terinfeksi baru menunjukkan gejalanya dalam jangka waktu 5 tahun
  • Chlamydia Felis, dengan gejala infeksi berupa mata berair, hidung berlendir, serta bersin. Virus bisa menyebar di paru-paru jika tidak diobati dengan benar.
  • Bordetella Bronchiseptica, di mana anak kucing dan kucing tua bisa mengalami komplikasi pneumonia jika terinfeksi.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI