Jaga Perasaan, Ini 5 Topik Basa-basi yang Baiknya Dihindari saat Silaturahmi Lebaran

Yasinta Rahmawati Suara.Com
Jum'at, 28 Maret 2025 | 17:29 WIB
Jaga Perasaan, Ini 5 Topik Basa-basi yang Baiknya Dihindari saat Silaturahmi Lebaran
Ilustrasi lebaran (Freepik/Odua)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Beberapa hari lagi, umat Muslim akan kembali dipertemukan dengan Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran. Tradisi yang kental pada momen tersebut adalah silaturahmi, berkumpul bersama keluarga besar termasuk sanak saudara yang biasanya jauh.

Selain menyantap ketupat, perbincangan seru juga pastinya terjadi saat kumpul keluarga. Namun, perlu diperhatikan ucapan dari diri kita yang bisa saja menyakiti perasaan orang lain. Untuk itu, hindari 5 topik berikut saat kumpul Lebaran.

1. Mengomentari Fisik Seseorang

Sudah terlalu lama tidak bertemu, penampilan tiap orang pasti akan mengalami perubahan. Biasanya, suatu obrolan akan dimulai dengan membahas hal tersebut. Misalnya, terlalu kurus, gemuk, hitam, atau banyak jerawat.

Kita menganggap topik itu hanya sebagai candaan semata. Namun, hal ini bisa saja membuat orang tersebut menjadi sedih. Jangan pernah mengatakan "terlalu membawa perasaan (baper)" dalam kasus ini.

Pasalnya, kondisi hati seseorang tidak bisa disamakan dengan yang lainnya. Ada yang kuat karena terbiasa tak peduli dengan orang lain. Lalu, ada pula yang mudah tersinggung. Jadi, diperlukan sikap untuk menjaga ucapan.

Ilustrasi silaturahmi (Freepik/Odua)
Ilustrasi silaturahmi (Freepik/Odua)

2. Merendahkan Aktivitas Orang lain

Topik lain yang biasa dibahas di awal pertemuan adalah aktivitas atau pekerjaan terkini. Begitu dijawab, masih banyak yang merendahkan dan membawa nama almamater. Berikut beberapa contohnya.

"Lulusan universitas negeri kok kerjanya cuma di sini?"

Baca Juga: Volume Arus Mudik Terus Meningkat, Dirlantas PMJ Prediksi Puncak Mudik Mulai Malam Tadi

"Lulusan sarjana kok masih nyari-nyari kerja?"

Perlu diketahui bahwa keduanya termasuk ke dalam daftar pertanyaan sensitif. Jangan mudah melontarkan kalimat tersebut, apalagi dilakukan tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang itu saat mendengarnya.

Bisa saja, mereka akan terus memikirkan perkataan itu dan menjadi stres. Mendoakan dan memberi semangat adalah beberapa contoh tanggapan yang baik. Pasalnya, tiap orang pasti memiliki titik rendahnya.

3. Bertanya Kapan Nikah

"Udah umur segini kok belum nikah? Keburu jadi perawan tua atau bujang lapuk nanti."

Kalimat tersebut biasa dilontarkan dari anggota keluarga saat kumpul di hari raya. Sebuah hubungan pernikahan adalah tentang seseorang tersebut dan pasangannya, bukan dengan orang lain. Maka dari itu, hindari mendorong mereka untuk segera menikah.

Mereka sendiri yang lebih mengetahui kapan harus melakukannya. Berikan doa terbaik termasuk berharap segalanya dapat berjalan lancar bisa dipilih untuk diucapkan daripada menyampaikan sesuatu yang menyakiti hati.

Ilustrasi Lebaran. [Envanto]
Ilustrasi Lebaran. [Envanto]

4. Membandingkan Nasib Seseorang

Beberapa anggota keluarga juga tak jarang akan mulai melakukan adu nasib saat kumpul Lebaran. Contohnya, "Kamu ini kan lulusan sarjana kok cuma kerja kayak gini? Kalah dong sama anakku yang lulusan SMK."

Bisa juga dengan "Kamu mau kepala tiga belum dapet jodoh juga, ini sepupumu lebih muda udah punya anak dua, lho." Topik ini sama sekali tidak pantas untuk disampaikan dalam momen hangat seperti Idul Fitri.

5. Menyinggung Soal Anak

Terakhir, jangan pernah bertanya soal anak kepada pasangan suami istri yang belum dikaruniai momongan. Topik ini sangat sensitif bagi mereka yang sudah lama bahkan sampai bertahun-tahun menanti kehadiran "si kecil".

Perjalanan para "pejuang garis biru" bisa dianggap luar biasa. Terlebih jika di sekitar mereka sudah banyak yang diberikan momongan. Hari-hari mereka pasti dipenuhi oleh tangisan, harapan, dan juga kekecewaan karena sampai saat ini belum dipercaya.

Selain itu, ada pula pasutri yang memilih child free atau tidak mau memiliki anak. Apabila disinggung, maka mereka bisa saja merasa sangat bersalah. Apalagi jika sampai memaksa dan mengaitkannya dengan agama.

Jangan pula menghujat pasutri yang memutuskan untuk berkeluarga tanpa anak. Keputusan ini diambil tentu bukan tanpa alasan. Mungkin mereka tidak mau pengeluaran lebih besar, ingin selalu berduaan, atau enggan direpotkan dengan tingkah anak-anak.

Kontributor : Xandra Junia Indriasti

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI