Sampel jaringan sendiri bisa diambil dari usap pipi bagian dalam (cheek swab) memakai cotton swab. Karena itulah, disarankan untuk tidak menyikat gigi, menggunakan obat kumur, memasang gigi palsu, serta merokok sekitar satu jam sebelum pengambilan sampel.
Sedangkan jika memerlukan sampel darah, maka penyedia sampel disarankan untuk memperbanyak minum, memakan makanan sehat, melembabkan lengan, serta melakukan sedikit aktivitas fisik untuk meningkatkan tekanan darah.

Terdapat beberapa jenis tes DNA untuk memastikan keturunan, seperti Noninvasive Prenatal Paternity (NIPP) Test yang memeriksa DNA janin dari sampel darah ibu biologisnya. Tes jenis ini memiliki akurasi hasil hingga 99,9%.
Lalu ada tes DNA tipe Amniocentesis, di mana sampel yang dipakai adalah cairan ketuban dari janin di trimester kedua atau ketiga (15-20 minggu). Kemudian terakhir adalah metode Chorionic Villus Sampling (CVS) dengan memakai sampel sel chorionic villi di plasenta.
Sampel-sampel ini lalu dibandingkan dengan sampel usap pipi dalam atau darah yang diambil pada ayah biologis potensial. Sedangkan pengambilan sampel biasanya dilakukan dalam kurun waktu 0-10 menit tergantung metodenya.
Lalu seperti apa hasil dari tes DNA?
Hasilnya biasanya berupa “kemungkinan keturunan” dalam nilai 0 atau 99,9. Jika hasil yang keluar 0, berarti tidak ada kecocokan genetis antara ayah dan anak, yang berarti bukan keturunannya. Sementara jika yang keluar 99,9, berarti ada kecocokan genetis dan kemungkinan anak tersebut merupakan keturunan sang ayah.