Doa adalah senjata seorang mukmin, dan pada Lailatul Qadar, doa menjadi lebih istimewa. Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang tepat di malam tersebut, dan beliau menjawab:
“Ya Allah, Engkau Maha Memberi Maaf dan menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah aku.”
Doa ini sederhana namun penuh makna, menjadi kunci memohon ampunan di malam yang penuh rahmat.
Membantu sesama
Membantu orang lain, seperti menyiapkan hidangan berbuka atau meringankan beban saudara, adalah ibadah yang tak kalah agung. Rasulullah SAW bersabda:
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani). Bahkan, membantu sesama bisa melebihi keutamaan iktikaf sebulan di Masjid Nabawi.
Lailatul Qadar adalah anugerah universal bagi setiap hamba yang ikhlas beribadah, termasuk perempuan haid dan nifas. Larangan salat bukan akhir dari perjuangan mereka, melainkan awal dari kreativitas dalam beribadah.
Wanita haid dan nifas masih bisa istighfar, sedekah, zikir, doa, hingga membantu sesama, mereka tetap bisa menyentuh keagungan malam itu.
Maka, di sela-sela malam Ramadan, mari kita sambut Lailatul Qadar dengan hati yang lapang dan amal yang tulus, karena rahmat Allah tak pernah memandang batas.
Baca Juga: Mencari Lailatul Qadar: Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan