Apa yang dilakukan Tom Lembong ternyata menjadi media bagi dirinya untuk meningkatkan kemampuan memorinya.
Sebagaimana temuan dari peneliti Kitty Klein dan Adriel Boals, menulis bisa mengasah memori seseorang untuk menerima informasi secara detil.
Adapun dalam kasus Tom Lembong, apa yang ia tulis bisa membantu dirinya untuk mengingat dan mencerna informasi terkait persidangan.
Klein dan Boals juga mendapat temuan bahwa orang yang rajin menulis sejatinya mengasah otak kirinya untuk memproses informasi secara rasional.
Maka dapat kita pahami, bahwa Tom Lembong menulis segala detil persidangan agar dirinya dapat memproses segala informasi agar dirinya dapat mengambil keputusan rasional terkait jalannya proses hukum.
Tak berhenti di situ, penelitian yang dilakukan oleh University of Texas Austin juga mendapat kesimpulan bahwa menulis bisa menjadi penangkal depresi bagi mereka yang punya banyak tekanan batin.
Hal ini tentu sejalan dengan penelitian Harvard Medical School terkait menulis sebagai pengendalian emosi yang baik.
Kata Prof. Stella Christie

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamenristek) Profesor Stella Christie juga sempat memaparkan tentang pentingnya kegiatan menulis.
Baca Juga: Hakim Tipikor Jakarta Ungkap Alasan Larang Media Siaran Langsung Sidang Tom Lembong
Bahkan, ia bercerita ketika menempuh studi di Harvard University, ada satu kelas yang wajib diikuti oleh mahasiwa semester awal yakni kelas menulis.