Suara.com - Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan korupsi. Ia diduga terlibat dalam praktik pembelian BBM RON 92 yang dilaporkan sebagai BBM RON 90.
Tak hanya itu, Riva dan beberapa jajaran petinggi PT Pertamina Patra Niaga juga diduga melakukan praktik blending BBM RON 90 dengan BBM RON 92. Padahal, tindakan ini dilarang karena mengakibatkan kerugian.
Kerugian akibat tindakan Riva dan jajarannya ditaksir mencapai Rp193 Triliun. Atas dasar itu, publik menyoroti alasan orang-orang dengan kekayaan melimpah seperti dirinya yang masih tergiur untuk melakukan korupsi.
Riva sendiri sebagai Dirut bisa mengantongi gaji bulanan mencapai Rp1,8 miliar. Belum lagi, ada tambahan sejumlah tunjangan yang di antaranya berupa perumahan, kendaraan, kesehatan, bantuan hukum, hingga insentif.
Baca Juga: Skandal Megakorupsi Pertamina, Tweet Lawas Prabowo Disundul Lagi: Hukuman Mati Bagi Koruptor
Alasan Orang Kaya Masih Tergiur Korupsi

Perusahaan spesialis investigasi asal Kanada, Haywood Hunt and Associates, pernah membahas soal orang kaya yang masih tergiur melakukan penipuan, seperti korupsi. Mereka membagikannya melalui situs resmi, haywoodhunt.ca.
Investigasi tersebut menyertakan hasil penelitian dari seorang profesor Harvard bernama Eugene Soltes. Semuanya dijelaskan dalam buku karyanya yang berjudul "Why They Did It: Inside the Mind of the White-Collar Criminal".
Eugene Soltes pun tidak sembarangan dalam menyusun buku miliknya. Profesor Harvard University itu diketahui melibatkan 48 orang penipu yang telah dihukum. Di mana mereka diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan beragam.
Pelaku yang terlibat di antaranya ada Andrew Fastow dari Enron Corp, manipulator skema Ponzi Bernard Madoff, hingga Dennis Kozlowski dari kasus penipuan Tyco International senilai USD600 juta. Mereka memiliki kekayaan dan latar belakang tak main-main.
Baca Juga: Pendidikan Bintang Emon, Komika Lantang Sentil Pertamina Soal BBM Oplosan
Berdasarkan jawaban pelaku-pelaku kejahatan yang menjadi objek penelitiannya, Eugene Soltes mengambil tiga kelompok alasan yang paling banyak muncul, yaitu:
1. 'Simpel Saja, Saya Melakukannya karena Saya Bisa'
Beberapa pelaku termasuk anggota masyarakat yang dihormati, mempunyai kedudukan sosial tinggi, serta latar belakang pendidikan mentereng. Namun, hal-hal seperti itu rupanya tidak cukup bagi mereka.
Mereka ingin merasa lebih unggul ketimbang orang lain. Biasanya, mereka akan memaksa orang lain untuk menuruti keinginannya dan tidak keberatan menggunakan keterampilan sekaligus pengetahuan khusus yang dimiliki.
Dennis Kozlowski mengatakan kepada Soltes bahwa ia yakin dirinya dapat melakukan apa saja. Pasalnya, orang-orang pasti akan memercayai tindakannya. Dengan begitu, melakukan penipuan bisa saja ditutupi.
2. 'Tindakan Saya Tidak Seburuk Itu'
Beberapa pelaku juga percaya bahwa tindakan mereka tidak seburuk itu sebab mereka yakin bisa mengembalikan uang tersebut sebelum tindakannya terbongkar. Hal ini berlaku bagi Bernie Madoff, di mana ia percaya uang yang diambil dapat dengan mudah dikembalikan.
Ia berharap rencana tersebut berhasil dan tidak seorang pun akan tahu kerugian yang pernah terjadi. Selain itu, sejumlah pelaku benar-benar berpikir bahwa mereka bertindak dengan cara yang sah.
3. 'Saya Perlu Melakukannya'
Beberapa dari mereka bahkan percaya bahwa tindakan tersebut adalah yang dibutuhkan bagi perusahaan. Mereka menilai dirinya sebagai pahlawan yang bersedia melakukan pekerjaan kotor untuk menyelamatkan orang lain.
Kontributor : Xandra Junia Indriasti