Mengatasi Tantangan dalam Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Vania Rossa Suara.Com
Jum'at, 28 Februari 2025 | 10:10 WIB
Mengatasi Tantangan dalam Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Tantangan dalam Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus. (dok. SIF)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap anak, tak terkecuali anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun, dalam penyelenggaraannya, pendidikan bagi ABK menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi agar mereka dapat memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya.

Hal inilah yang kemudian memunculkan inisiatif dari Singapore International Foundation (SIF), bekerja sama dengan YPAC Jakarta dan Singapore Health Services (SingHealth). 

Selama enam tahun, inisiatif untuk meningkatkan dukungan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Jakarta telah berhasil memberdayakan para praktisi Indonesia dengan keahlian terapi okupasi tingkat lanjut.

Melebihi target awal hingga enam kali lipat, lebih dari 12.000 individu telah merasakan manfaat dari inisiatif yang diprakarsai oleh Singapore International Foundation (SIF) bersama YPAC Jakarta dan SingHealth.

Baca Juga: Populasi Usia Menurun, 49 Sekolah di Korea Selatan Tutup Tahun Ini

Dan, pada Selasa (25/2/2025), inisiatif The Occupational Therapy for Children with Special Needs (OTSPED) resmi ditutup.

Inisiatif ini membekali para praktisi pendidikan khusus dengan alat dan strategi esensial untuk memperdalam pemahaman mereka tentang perkembangan anak. 

Kurikulum pelatihan yang komprehensif mengintegrasikan manajemen siswa dengan peningkatan kapasitas bagi para terapis okupasi, memungkinkan mereka memfasilitasi aktivitas kehidupan sehari-hari dengan lebih efektif.

Diprakarsai oleh SIF untuk mengatasi tantangan kesehatan global, kemitraan ini juga memperkuat hubungan antara tenaga profesional pendidikan khusus di Singapura dan Indonesia. 

Tim Singapore International Volunteers (SIV), yang terdiri dari terapis okupasi KK Women’s and Children’s Hospital (KKH) di bawah naungan SingHealth, telah melatih 103 praktisi pendidikan khusus dari 29 organisasi di Indonesia melalui inisiatif pertukaran wawasan dan keterampilan. Dan pencapaian ini melampaui lebih dari dua kali lipat target awal.

Baca Juga: Full Day School: Solusi Pendidikan atau Beban bagi Siswa?

Inisiatif ini memberikan manfaat bagi lebih dari 12.000 anak, orang tua, dan pengasuh, sekaligus memperluas akses pelatihan bagi lebih banyak terapis okupasi guna memastikan dampak positif yang berkelanjutan dan jangka panjang di komunitas. 

Sebanyak 13 Master Trainer dari tujuh organisasi menjalani pelatihan lanjutan untuk mengasah keahlian mereka dalam membimbing rekan sejawat. 

Hasilnya, inisiatif pengembangan keahlian ini dapat menjangkau jaringan praktisi SPED yang lebih luas di Jakarta.

“Kami percaya bahwa perubahan yang bermakna terjadi ketika orang-orang dari berbagai negara bersatu untuk berbagi pengetahuan, keterampilan, dan ide," kata Corinna Chan, CEO SIF.

Inisiatif OTSPED, sambung dia, mencerminkan eratnya hubungan persahabatan antara Singapura dan Indonesia serta menegaskan bahwa kolaborasi beperan penting dalam menciptakan solusi berkelanjutan dan dampak jangka panjang. 

"Kami terharu bahwa dengan memperkuat kemampuan para pendidik dan terapis di Jakarta, kami telah membangun ekosistem yang mendukung perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarga mereka,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua YPAC Jakarta, Kumala Insiwi Suryo mengatakan bahwa keahlian, bimbingan, dan kolaborasi mereka telah memperkuat kemampuan para pendidik dan terapis kami sehingga kami dapat memberikan perawatan dan dukungan yang lebih baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

"Inisiatif OTSPED telah memberikan dampak yang berarti bagi komunitas kami, dan kami antusias untuk terus membangun fondasi yang kuat ini guna menciptakan masa depan yang lebih inklusif bagi semua. Saya berharap persahabatan antara Indonesia dan Singapura akan terus terjalin erat seiring dengan terbukanya peluang kemitraan baru di masa depan,” katanya.

Kepala dan Senior Terapis Okupasi, Pelayanan Terapi Okupasi, Pusat Rehabilitasi, KKH, dan Ketua Tim SIV, Soh Siok Khoon, mengatakan bahwa selama enam tahun terakhir, para relawannya dan praktisi di Indonesia telah bertukar pengetahuan serta pengalaman, sekaligus mengembangkan strategi bersama untuk mendukung anak-anak berkebutuhan khusus dengan lebih efektif. 

"Menyaksikan pertumbuhan para Master Trainer serta dampak berkelanjutan dari pelatihan yang mereka berikan menjadi pengalaman yang sangat memuaskan," tambahnya. 

Kemitraan ini, lanjut Soh Siok Khoon, tidak hanya meningkatkan kemampuan profesional, tetapi juga mempererat persahabatan, menunjukkan bahwa kolaborasi memiliki kekuatan besar dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI