5. Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban
Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban menjadi satu-satunya kelenteng di Asia Tenggara yang menghadap ke laut. Kelenteng satu ini diperkirakan didirikan pada tahun 1773 silam. Nama Kwan Sing Bio sendiri memiliki arti tempat pemujaan dan penghormatan kepada Dewa Kwan Kong. Tak heran bila tempat ini akan ramai pengunjut ketika ulang tahun Dewa Kwan Kong yang dirayakan setiap tanggal 24 bulan 6 dalam sistem penanggalan Tionghoa.
Adapun salah satu keunikan dari bangunan kelenteng ini adalah gerbang masuk yang dilengkapi dengan Gapura kepiting raksasa. Sebab dahulu kawasan ini dijadikan ssbagai tambak kepiting.
6. Kelenteng Liong Hok Bio, Magelang
Kelenteng Liong Hok Bio didirikan oleh Kapitien Be Koen Wie (Tjok Lok), seorang saudagar kaya raya yanh berasal dari Kota Solo. Setelah pindah tugas ke Magelang atas perintah Belanda, ia pun memutuskan untuk mendirikan kelenteng ini di atas tanah yang dihibahkan.
Terletak di Jalan Alun-alun Selatan No 2, Kota Magelang, kelenteng Liong Hok Bio merupakan kelenteng bersejarah yang ada di Indonesia. Adapun salah satu ciri khasnya yakni wadah hio atau hiolo raksasa dengan tinggi 158 sentimeter, diameter 188 sentimeter serta berat mencapaib3,8 ton.
7. Kelenteng Caow Eng Bio
Beralih ke Pulau Dewata, kelenteng tertua dan bersejarah di Indonesia berikutnya yaitu Klenteng Caow Eng Bio yang terletak di Kabupaten Badung, Bali. Klenteng ini diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1548 atau ketika masa Kerajaan Badung. Klenteng satu ini mempunyai bangunan yang tidak terlalu besar dengan ciri khas hiasan khas Tiongkok dan dua patung naga di bagian pintu masuk.
Terletak di Jl. Segara Ening No.14, Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, kelenteng ini memiliki sekitar 10 altar dan sebuah kuil kecil yang ada di dalamnya. Berbeda dengan kelenteng oada umumnya yang jadi persembahan bagi Dewi Kwan Im, kelenteng ini didirikan untuk menyembah Dewi Shui Wei yang disembah oleh orang-orang Hainan.
Baca Juga: Download Gratis! 30+ Poster Imlek 2025 Super Kece dan Penuh Makna
8. Kelenteng Hong Tiek Hian