Anak yang tumbuh dalam keluarga poligami dikatakan akan merasakan kurangnya kasih sayang dari ayahnya. Hal ini menyebabkan mereka jadi mencari perhatian dalam bentuk lain, termasuk melakukan hal-hal yang berisiko, misalnya anak jadi malas belajar.
2. Pemahaman akademik yang lebih rendah
Berdasarkan informasi dari jurnal Family Studies (2015), anak yang berasal dari keluarga poligami cenderung mempunyai pemahaman akademik yang lebih rendah jika dibandingkan dengan anak dari keluarga monogami.
3. Anak memiliki masalah kepercayaan dengan orang tua
Anak juga bisa mengalami trust issue atau masalah kepercayaan dengan orang tua ataupun sosok orang dewasa lainnya. Dampaknya, hubungan anak dengan ibu dan ayahnya jadi terasa kaku serta berjarak.
4. Melemahnya kemampuan interpersonal
Anak yang berasal dari keluarga poligami juga akan mengalami efek melemahnya kemampuan kemampuan interpersonal mereka. Hal ini akan berdampak pada perilaku anak yang merasa takut terlibat dalam sebuah komitmen, termasuk pernikahan.
Dampak poligami bagi anak juga pernah diteliti dan hasilnya diterbitkan dalam Jurnal Literasiologi Volume 11 Nomor 1 dengan judul "Dampak Poligami Terhadap Perkembangan Anak". Jurnal ini menyebutkan bahwa dampak poligami terhadap anak sangat kompleks dan bervariasi, di antaranya:
- Kurangnya perhatian individu dan waktu yang berkualitas dengan setiap anak dapat memengaruhi perkembangan emosional dan sosial mereka
- Persaingan antara istri-istri untuk mendapat perhatian suami dapat menciptakan ketidakadilan perlakuan terhadap anak
- Anak mungkin mengalami kebingungan tentang peran dan identitas mereka dalam keluarga yang kompleks
- Stigma sosial tentang poligami juga dapat berdampak pada psikologis dan sosial anak
Itulah beberapa dampak poligami terhadap anak.
Baca Juga: Diprotes Rieke Diah Pitaloka, Ini Sederet Alasan di Balik Pergub ASN Boleh Poligami
Kontributor : Rizky Melinda