Hotman Paris Gak Akan Mau Jadi Menteri, Pamer Penghasilan Retainer Fee Bisa Berkali Lipat Gaji di Kabinet

Sabtu, 04 Januari 2025 | 14:05 WIB
Hotman Paris Gak Akan Mau Jadi Menteri, Pamer Penghasilan Retainer Fee Bisa Berkali Lipat Gaji di Kabinet
Hotman Paris. (Instagram)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Hotman Paris dikenal sebagai pengacara sukses dan kaya raya hingga kerap memamerkan gaya hidupnya yang mewah di media sosial. 

Baru-baru ini, Hotman Paris mengungkapkan mengenai penghasilan fantastis yang ia terima dari klien-kliennya melalui sistem retainer fee, yang membuat banyak orang tercengang.

Dikutip akun TikTok FG Media, Hotman Paris mengatakan banyak pengusaha yang membayar dirinya dengan sistem retainer fee, yang bisa dianggap seperti biaya langganan atau abonemen. 

Pria 65 tahun tersebut menjelaskan bahwa tanpa harus ada kasus yang sedang ditangani, ia tetap akan menerima pembayaran dari berbagai klien setiap bulannya.

"Banyak pengusaha yang bayar saya istilahnya itu retainer fee. Kayak abonamen. Nggak ada kerja tetap dibayar," ungkap Hotman Paris seperti Suara.com kutip pada Sabtu (4/1/2025).

Bahkan, kata pria dengan julukan "Celebrity Lawyers" itu beberapa klien membayar hingga puluhan juta setiap bulan hanya untuk menjaga hubungan hukum yang baik dengannya.

Salah satu klien loyalnya adalah sebuah bank swasta ternama yang disebut-sebut membayar Hotman Paris sebesar Rp50 juta per bulan. Bahkan, ada juga yang membayar jauh lebih besar, hingga USD30 ribu per bulan.

Hotman Paris juga mengungkapkan bahwa sistem pembayaran ini bukanlah hal yang aneh baginya, bahkan ia merasa sangat nyaman dengan pola kerja yang fleksibel.

"Ada yang bayar Rp50 juta. Ada yang bayar, kayak BCA bayar saya Rp50 juta tiap bulan. Tapi ada juga yang bayar sampai 30 ribu dolar sebulan," tambahnya.

Baca Juga: Keras! Menperin: Apple Cuma Cari Cuan di RI

Menariknya, kata Hotman Paris, alasan inilah yang membuatnya menolak tawaran untuk menjadi seorang menteri. Dengan tegas, pria kelahiran Toba, Sumatera Utara itu menjawab ia bakal menolak untuk bergabung dengan kabinet pemerintahan. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI